Pendekatan Baru dalam Kebijakan Penghematan BBM

Harian Ekonomi KONTAN, 29 Mei 2010

oleh : Firdaus Cahyadi
Konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) di Indonesia cenderung meningkat. Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) pun memperkirakan realisasi penyaluran BBM bersubsidi akan melonjak menjadi 40,1 juta kiloliter (KL) pada tahun 2010 ini. Kondisi itu dari sisi ekonomi tentu saja akan menguras APBN. Sementara dari sisi ekologi, borosnya konsumsi BBM akan berdampak pada meningkatnya polusi udara dan emisi gas rumah kaca (GRK) penyebab pemanasan global.
Salah satu faktor yang mempengaruhi jumlah kenaikan konsumsi BBM itu adalah meningkatnya jumlah pertumbuhan kendaraan bermotor. Menurut Presiden Direktur PT Indomobil Sukes Internasional Tbk, Gunadi Sindhuwinata, seperti ditulis sebuah media massa nasional, menyebutkan bahwa pertumbuhan otomotif akan dua kali lipat dari pertumbuban ekonomi nasional yang diperkirakan berkisar antara lima hingga 5,5 persen di 2010, sehingga pertumbuhan otomotif di tanah air pada sepanjang tahun 2010 diperkirakan mencapai 10 hingga 12 persen.
Situasi dan kondisi seperti itulah yang mambuat pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan konsumsi BBM bersubsidi bagi kendaraan bermotor. Diharapkan dengan kebijakan itu mampu menekan laju konsumsi BBM.

Tidak Efektif
Pertanyaan berikutnya tentu saja adalah efektifkah kebijakan pembatasan konsumsi BBM bersubsidi tersebut? Dari sisi ekonomi mungkin saja kebijakan itu akan efektif. Namun, jika sasarannya adalah penghematan BBM itu juga agar tidak menambah polusi udara dan emisi GRK maka dapat dipastikan bahwa kebijakan itu tidak akan efektif. Kenapa demikian? Karena kebijakan itu hanya akan mengalihkan pola konsumsi pengguna kendaraan bermotor pribadi dari BBM bersubsidi ke BBM non-subsidi.
Berapapun harga BBM non-subsidi akan tetap dibayar oleh para pengguna kendaraan bermotor pribadi yang memang berasal dari kelas sosial menengah ke atas. Artinya, kebijakan itu tidak akan diiringi dengan pengalihan pola mobilitas masyarakat dari menggunakan kendaraan bermotor pribadi ke transportasi massal.
Akibatnya dari sisi emisi GRK tetap saja tidak berubah, karena volume total konsumsi BBM memang tidak berkurang. Jika pertimbangan ekologi dimasukan dalam skema kebijakan penghematan BBM tantu saja kebijakan pembatasan BBM bersubsidi saja tidaklah cukup. Pemerintah harus menggunakan pendekatan baru dalam kebijakan penghematan BBM, yaitu pendekatan tata ruang dan pembangunan infrastruktur transportasi.
Berapapun meningkatnya jumlah kendaraan bermotor pribadi tidak akan menyebabkan kenaikan jumlah konsumsi BBM dan emisi GRK jika kendaraan bermotor itu tetap diparkir di garasi dan tidak digunakan di jalan raya. Hal itu bisa terealisasi bila antara tempat hunian rumah tangga dan tempat beraktifitas tidak berjauhan. Dan itu bisa terealisasi bila tata ruang di sebuah kawasan terintegrasi antara tempat hunian dan aktivitas.
Dengan pendekatan tata ruang seperti itu, akan mencegah sesorang untuk menggunakan kendaraan bermotor pribadi dalam beraktifitas. Berjalan kaki, menggunakan sepeda dan transportasi massal menjadi kegiatan yang menyenangkan di sebuah kawasan yang memiliki tata ruang yang terintegrasi seperti itu.
Selain pendekatan tata ruang, penghematan BBM juga dapat didekati dengan kebijakan pembangunan infrastruktur transportasi massal. Pilihan untuk membangun infrastruktur transportasi massal tentu saja menjadi pilihan utama dibandingkan membangun infrastruktur trasnportasi bagi kendaraan bermotor pribadi.
Namun yang terjadi di lapangan justru sebaliknya. Sudah terlalu sering pejabat di pemerintahan mengumbar pernyataan tentang penghematan BBM. Namun pernyataan itu tidak pernah terealisasi dalam sebuah kebijakan yang nyata. Kalaupun ada itu hanya sebuah kebijakan tambal sulam seperti kebijakan pembatasan konsumsi BBM bersubsidi.
Lihat saja, di satu sisi pemerintah menyerukan penghematan BBM dan mengeluarkan kebijakan pembatasan konsumsi BBM bersubsidi. Namun di sisi lain, pemerintah tetap saja merancang tata ruang wilayah yang tidak terintegrasi antara hunian dan tempat beraktifitas sehari-hari. Akibatnya, warga pun cenderung menggunakan kendaraan bermotor pribadi dalam kesehariannya.

Tata Ruang
Buruknya tata ruang wilayah Jakarta dapat dijadikan contoh dalam hal ini. Tata ruang wilayah yang memusatkan pembangunan di Jakarta menyebabkan penduduk Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Bodetabek) berbondong-bondong menuju Jakarta dalam setiap harinya. Tak heran setiap hari kota Jakarta dikepung oleh kemacetan dan polusi udara.
Kebijakan pembangunan infrastruktur transportasi juga tidak kalah runyamnya. Pilihan kebijakan pembangunan transportasi yang mengutamakan pembangunan jalan layang, underpass dan jalan tol justru akan menambah jumlah pengguna kendaraan bermotor pribadi. Sementara pengguna transportasi massal semakin menurun. Kasus penurunan jumlah penumpang kereta api begitu sebuah jalan tol dioperasikan dapat dijadikan contoh dalam hal ini.
Di California  setiap 1% peningkatan panjang jalan dalam setiap mil akan menghasilkan peningkatan kendaraan yang lewat sebesar 0,9% dalam waktu lima tahun (Hanson, 1995). Sementara studi kelayakan pembangunan jalan tol dalam kota Jakarta yang dilakukan oleh PT. Pembangunan Jaya, pada Mei 2005, justru mengungkapkan bahwa setiap pertambahan jalan sepanjang 1 km di Jakarta akan selalu dibarengi dengan peningkatan jumlah kendaraan sebanyak 1923 mobil pribadi.
Pendekatan baru dalam kebijakan penghematan BBM tersebut di atas perlu mendapat perhatian oleh pemerintah. Terlebih peningkatan konsumsi BBM tidak hanya terkait dengan persoalan ekonomi semata namun juga ekologi. Untuk itu tidak adil rasanya, jika kebijakan penghematan BBM hanya didekati dengan pendekatan ekonomi  seraya mengesampingkan pendekatan lainnya yang berdasarkan pertimbangan ekologi.

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: