Hak atas Informasi Perubahan Iklim Hilang

Harian Bisnis dan Investasi KONTAN, 19 April 2010


Oleh: Firdaus Cahyadi, OneWorld- Indonesia

Euforia menurut kamus besar Bahasa Indonesia, edisi ketiga terbitan Balai Pustaka, adalah perasaan nyaman atau gembira yang berlebihan. Euforia itu kini tengah menghinggapi masyarakat kita terkait dengan isu perubahan iklim. Pemerintah, korporasi dan masyarakat semua menyatakan mendukung kampanye melawan perubahan iklim.
Berbagai kampanye terkait perubahan iklim pun telah sering dilakukan pemerintah. Korporasi yang selama ini dinilai menjadi penyebab kerusakan lingkungan hidup pun tidak ketinggalan untuk ikut berkampanye mengenai perubahan iklim. Berbagai acara yang bernuansa ‘hijau’, bertemakan lingkungan hidup, pun telah banyak digelar oleh berbagai korporasi di tanah air.
Sudah dapat diduga berbagai kampanye perubahan iklim itu pun disambut dengan penuh antusias oleh masyarakat, bahkan dengan kegembiraan yang berlebihan alias euforia. Semua persoalaan yang terkait dengan pola konsumsi dan produksi selalu dikaitkan dengan isu perubahan iklim. Namun di balik euforia terhadap isu perubahan iklim itu timbul pertanyaan, sejauh mana sebenarnya masyarakat mengetahui informasi mengenai perubahan iklim ini?
Berbicara mengenai perubahan iklim misalnya, tidak bisa dilepaskan dengan persoalan kualitas udara. Pertanyaannya adalah tahukah kita, seperti apa kualitas udara di kawasan kita sekarang ini?
Pertanyaan itu harusnya mudah dijawab karena pemerintah telah memiliki alat stasiun pemantau kualitas udara, paling tidak di sepuluh kota, seperti di Jakarta, Surabaya, Palangkaraya, Pontianak, Semarang, Bandung, Medan, Jambi dan Denpasar. Dengan keberadaan alat stasiun pemantau kualitas udara di sepuluh kota itu dapat dipastikan kualitas udara di kawasan-kawasan tersebut dapat terpantau dengan baik.
Namun, kenyataan di lapangan justru sebaliknya. Data dari Status Lingkungan Hidup Indonesia tahun 2006 yang diterbitkan oleh Kementerian Negara Lingkungan Hidup (KLH) mengungkapkan, di Jakarta ada 14 hari yang hilang dalam pemantuan kualitas udara atau dengan kata lain selama 14 hari itu tidak ada data yang tersedia mengenai kualitas udara di Jakarta.
Kondisi yang lebih parah lagi terjadi di luar Jakarta. Di Denpasar dan Jambi misalnya selama satu tahun penuh tidak ada data mengenai kualitas udara di kedua kawasan tersebut. Menurut KLH hal itu disebabkan karena kinerja alat pemantau kualitas udara mengalami penurunan. Alat yang dipasang di Jakarta, Bandung, Semarang, Medan dan Palangkaraya masih bisa digunakan walaupun jumlah data yang dihasilkan berkurang. Sedang peralatan pemantau kualitas udara di Jambi, Pontianak, Denpasar dan Pekanbaru sudah tidak dapat berfungsi lagi. Anehnya pada laporan Status Lingkungan Hidup tahun 2007, KLH tidak lagi menginformasikan berapa jumlah data yang hilang dalam satu tahun di kawasan-kawasan tersebut, apakah mengalami peningkatan atau penurunan?
Ketidakjelasan informasi bukan hanya terkait dengan kualitas udara. Bahkan ketidakjelasan itu juga melanda rencana penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) sebagai penyebab perubahan iklim yang dicanangkan Presiden SBY. Beberapa waktu yang lalu misalnya, Presiden SBY mengatakan bahwa Indonesia berencana menurunkan emisi GRK sebesar 26%. Namun hingga kini belum ada informasi yang jelas dari sektor apa penurunan emisi GRK tersebut? Jika dari semua sektor, berapa kontribusi masing-masing sektor tersebut terhadap penurunan emisi GRK? Lantas, dari mana pula asal pendanaan untuk menurunkan emisi GRK sebesar 26% itu, dari utang luar negeri, hibah atau APBN?
Informasi mengenai proyek-proyek terkait dengan perubahan iklim dapat dikatakan merupakan informasi sering hilang dari pantauan masyarakat. Padahal jumlah uang yang beredar di proyek-proyek tersebut lumayan besar, terutama bila dikaitkan dengan kondisi kemiskinan sebagian besar rakyat Indonesia dan masih maraknya korupsi di tanah air.
Kepedulian Semu
Sebuah media massa nasional dituliskan bahwa Jepang misalnya, akan memberikan bantuan berupa hibah, bantuan teknis dan utang untuk mengatasi perubahan iklim di Indonesia senilai kurang lebih US$10 miliar. Dari jumlah itu, sebanyak US$2 miliar diberikan bagi upaya adaptasi terhadap perubahan iklim dan perbaikan akses terhadap energi bersih serta US$8 miliar untuk upaya pengurangan dampak perubahan iklim.
Pertanyaan berikutnya adalah dimana dan kapan proyek-proyek miliaran dolar AS itu akan diimplementasikan? Bagaimana pula mekanisme kontrol publik atas proyek-proyek-proyek itu? Informasi mengenai hal itu sangat penting bagi masyarakat. Terlebih sebagaian proyek-proyek perubahan iklim di Indonesia itu didanai melalui utang luar negeri. Artinya, kelak masyarakat juga yang akan membayar proyek-proyek utang yang mengatasnamakan perubahan iklim itu. Dan tentu saja selain Jepang masih ada beberapa negara lain dan juga lembaga bisnis bantuan internasional seperti Bank Dunia yang akan mengucurkan utang baru untuk proyek perubahan iklim.
Bahkan karena begitu tertutupnya informasi atas perubahan iklim ini, hingga masyarakat umum, kecuali aktivis lingkungan hidup dan sebagian wartawan, tidak mengetahui siapa-siapa orang yang menjadi delegasi Indonesia saat perundingan internasional mengenai perubahan iklim digelar. Masyarakat umum juga tidak pernah mendapat informasi posisi apa yang dibawa oleh delegasi Indonesia dalam setiap konferensi internasional tersebut.
Begitu pula saat perundingan internasional mengenai perubahan iklim selesai digelar, para delegasi juga tidak pernah menggelar semacam pertanggungjawaban publik atas misi yang dibawanya di perundingan internasional itu. Padahal mereka menjadi delegasi atas nama Indonesia dan sebagian mendapatkan pembiayaan dari uang negara.
Adalah sebuah ironi yang sangat menyedihkan karena di balik euforia isu perubahan iklim ini ternyata masih banyak informasi yang sejatinya menjadi hak kita namun sulit bahkan tidak kita peroleh. Jika kita hanya diam dan tidak mendesak lembaga-lembaga publik untuk terbuka atas informasi perubahan iklim tersebut, maka sejatinya kepedulian kita terhadap isu perubahan iklim ini adalah sebuah kepedulian semu. Sebuah kepedulian yang hanya didasarkan pada emosi sesaat dan bukan kesadaran kritis.

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: