Mengulang Kegagalan Proyek Privatisasi Air Bersih

Koran Tempo, 22 Agustus 2009

Firdaus Cahyadi
# Knowledge Sharing Officer for Sustainable Development, OneWorld-Indonesia

wb2“Proyek ini untuk mendukung reformasi di sektor perairan,” kata Kepala Perwakilan Bank Dunia di Indonesia, Joachim von Amsberg, dalam siaran persnya pada akhir Juli lalu. Lembaga bisnis bantuan internasional itu kembali memberikan utang baru kepada Indonesia sebesar US$ 23,56 juta untuk meningkatkan akses air bersih.

Proyek utang Bank Dunia untuk air bersih itu rencananya akan berlangsung dalam lima tahun. Adapun pelaksana proyek utang itu telah dibagi-bagi ke daerah-daerah. Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Bogor, Jawa Barat, mendapat bagian proyek utang senilai US$ 10,95 juta. PDAM Kapuas, Kalimantan Tengah, mendapat bagian proyek utang senilai US$ 5,6 juta. Sedangkan Muara Enim, Sumatera Selatan, mendapat bagian sebesar US$ 14,56 juta.

Masyarakat Indonesia, utamanya yang tinggal di Bogor, Kapuas, dan Muara Enim, perlu bersikap kritis terhadap proyek utang Bank Dunia untuk air bersih ini. Hal itu karena proyek utang yang, menurut Bank Dunia, untuk reformasi di sektor perairan itu dipastikan akan berujung pada privatisasi air. Jika demikian halnya, dapat dipastikan pula akses warga miskin di kawasan tersebut terhadap air bersih akan semakin jauh dari harapan.

Sudah lama Bank Dunia mempromosikan privatisasi air di Indonesia. Bersama Asian Development Bank (ADB), Bank Dunia membiayai proyek utang restrukturisasi sektor air. Proyek itu dimaksudkan untuk mendorong desentralisasi pengelolaan air dan masuknya sektor swasta, terutama di daerah perkotaan. Restrukturisasi sektor air itu terkait dengan persyaratan pinjaman dalam Structural Adjustment Loan (Pinjaman Penyesuaian Struktural) dari Bank Dunia dan IMF untuk mengatasi krisis ekonomi yang dimulai pada 1997.

Pada 1997 pula Bank Dunia juga mensponsori privatisasi air di Jakarta. Pada awalnya privatisasi air di Jakarta diharapkan dapat mengurangi eksploitasi air tanah dan memperluas akses warga Jakarta terhadap air bersih. Namun, setelah sepuluh tahun privatisasi, eksploitasi air tanah justru bertambah. Data BPLHD DKI Jakarta mencatat, selama periode Januari-Mei 2008, di Jakarta Pusat terjadi kelebihan penyedotan air tanah oleh pelanggan rumah mewah dan niaga dari sumur bor hingga sekitar 929.076 meter kubik (m3), sedangkan kelebihan penyedotan dengan sumur pantek mencapai 136.454 m3.

Kelebihan juga terjadi di Jakarta Timur. Penyedotan dengan sumur bor hingga 1.924.377 m3 dan sumur pantek 253.577 m3. Penyedotan diduga dilakukan pelaku industri, pemilik pabrik di Kawasan Industri Pulogadung. Kelebihan penyedotan dengan sumur bor terbesar terjadi di wilayah Jakarta Selatan, yaitu sekitar 1.718.600 m3 dan dengan sumur pantek 428.100 m3. Kelebihan penyedotan di Jakarta Barat dengan sumur bor sekitar 760.834 m3 dan dengan sumur pantek 96.361. Di Jakarta Utara, kelebihan penyedotan air tanah dengan sumur bor sekitar 602.358 m3 dan dengan sumur pantek 62.115 m3.

Kegagalan privatisasi air di Jakarta yang dipromosikan oleh Bank Dunia tidak hanya terkait dengan pengurangan eksploitasi air tanah, tapi juga dengan akses warga miskin kota terhadap air bersih. Setelah sepuluh tahun lebih privatisasi air di Jakarta, harga air terus merangkak naik. Hal itu tentu membuat akses warga miskin terhadap air bersih semakin berkurang. Pemerintah sendiri menyatakan, kenaikan ini diperlukan untuk menutupi biaya perusahaan. Dengan kata lain, sejatinya kenaikan harga air itu karena perusahaan yang mengelola air di Jakarta ingin memaksimalkan keuntungan dari usahanya.

Kegagalan proyek privatisasi air yang dikampanyekan Bank Dunia dan lembaga bisnis bantuan internasional lainnya ternyata bukan hanya terjadi di Jakarta. Riset yang dihasilkan oleh the PSI’s Research Unit, University of Greenwich, menemukan bahwa privatisasi air oleh perusahaan-perusahaan multinasional di negara sedang berkembang tidak terlepas dari persoalan korupsi.

Perusahaan swasta pengelola air tersebut dinilai telah mengalami kegagalan dalam melayani kelompok miskin, bahkan mengeksploitasi kelompok-kelompok tersebut. Hal itu bahkan dinyatakan oleh J.F. Talbot, CEO of SAUR International, yang merupakan perusahaan multinasional keempat terbesar di dunia pada Januari 2002.

Penelitian di Bolivia, Pakistan, dan Argentina menunjukkan gejala yang sama, yaitu kenaikan harga dan kegagalan melayani kelompok miskin. Di Cochabamba, Bolivia, setelah privatisasi terjadi kenaikan harga air sekitar 300 persen. Seharusnya pemerintah belajar dari kegagalan proyek utang untuk privatisasi air bersih di berbagai belahan dunia dan juga di Jakarta sendiri. Namun, ironisnya, pemerintah justru masih percaya kepada angin surga yang diembuskan oleh proyek privatisasi air. Hal itu terbukti dengan pemerintah lebih memilih untuk menambah utang baru di sektor perairan.

Menurut catatan Koalisi Rakyat untuk Hak atas Air (Kruha), jumlah utang berjalan Indonesia di sektor perairan kepada ADB sebesar US$ 804.69 juta dengan perincian nilai proyek yang sudah berjalan adalah sebesar US$ 114.69 juta dan nilai proyek yang sedang dalam proses persetujuan sebesar US$ 690 juta. Adapun jumlah utang berjalan Indonesia di sektor air kepada World Bank (WB) adalah US$ 762.51 juta.

Kita, seluruh warga Indonesia, yang akan menerima dampak buruk proyek privatisasi air dan sekaligus membayar utang dari proyek tersebut. Sebaliknya, lembaga bisnis bantuan internasional dan perusahaan-perusahaan multinasional adalah pihak yang paling diuntungkan oleh keberhasilan proyek utang di sektor perairan. Pemerintah rupanya lebih nyaman untuk melayani kepentingan lembaga bisnis bantuan internasional, seperti Bank Dunia, ADB, dan juga perusahaan multinasional di sektor perairan, daripada melindungi kepentingan warganya. Sebuah kenyataan yang sungguh menyakitkan.

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: