Kebanggaan Semu Jembatan Suramadu

suramadu

Koran TEMPO, 27 Juni 2009

Firdaus Cahyadi KNOWLEDGE SHARING OFFICER FOR SUSTAINABLE DEVELOPMENT, ONEWORLD-INDONESIA

“Silakan tepuk tangan, kita harus bangga terhadap karya anak bangsa sendiri,” kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), seperti ditulis sebuah media massa nasional, saat meresmikan Jembatan Suramadu (10 Juni).

Jembatan sepanjang 5.438 meter itu nantinya akan menghubungkan Surabaya dengan Madura. Diharapkan, dibangunnya jembatan itu akan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi di Pulau Madura. Sepintas, kebanggaan Presiden SBY atas Jembatan Suramadu itu pantas diapresiasi.

Persoalan baru muncul ketika kita mencoba mengaitkan pernyataan tersebut dengan seruan hemat energi yang pernah diucapkan oleh Presiden SBY sebelumnya. Pada awal Mei 2008, untuk kesekian kalinya Presiden SBY menyerukan agar masyarakat dan pejabat pemerintah melakukan penghematan energi. Waktu itu, seruan tersebut terkait dengan semakin melambungnya harga bahan bakar minyak (BBM) di pasar internasional. Saat ini, imbauan itu tetap relevan. Selain karena kebutuhan BBM di negeri ini masih harus diimpor, kecenderungan harga minyak dunia kini mulai kembali merangkak naik, seperti yang diungkapkan dalam siaran pers Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada 30 Maret 2009 lalu.

Namun, seruan hemat energi Presiden SBY seakan dimentahkan oleh peresmian Jembatan Suramadu. Betapa tidak, pembangunan jembatan yang menghubungkan Surabaya dengan Madura itu dipastikan akan berdampak pada meningkatnya jumlah pemakaian kendaraan bermotor pribadi, khususnya di kawasan Surabaya dan Madura. Padahal sudah menjadi rahasia umum bahwa sektor transportasilah yang paling rakus mengkonsumsi BBM.

Data dari Departemen Perhubungan menyebutkan bahwa konsumsi BBM sektor transportasi setiap tahun mencapai 31 juta kiloliter. Jumlah tersebut 50 persen dari total kebutuhan nasional sebesar 60 juta kiloliter per tahun. Data itu juga menyebutkan bahwa sektor transportasi mengkonsumsi solar 14 juta kiloliter per tahun. Jumlah tersebut dinilai sangat besar dibandingkan dengan sektor lain.

Pemborosan BBM dan peningkatan laju pertumbuhan kendaraan bermotor pribadi terkait erat dengan maraknya pembangunan jalan raya.

Pengalaman di California menunjukkan, setiap 1 persen peningkatan panjang jalan raya dalam setiap mil akan menghasilkan peningkatan jumlah kendaraan yang lewat 0,9 persen dalam waktu lima tahun (Hanson, 1995).

Sementara itu, pengalaman di Jakarta juga menunjukkan, dalam kurun waktu 1999-2003 saja, setiap ada pertambahan panjang jalan sepanjang 1 kilometer di Jakarta akan selalu diikuti dengan pertambahan jumlah kendaraan bermotor sebanyak 1.923 unit mobil pribadi dan 3.000 kendaraan bermotor roda dua (Kajian Jaringan Jalan Tol DKI Jakarta, PT Pembangunan Jaya, Mei 2005). Sedangkan di Jawa Timur, berdasarkan data di UPT Dispenda Jawa Timur, jumlah kendaraan bermotor (roda dua dan empat) pada September 2004 mencapai 108.078 unit. Perinciannya, 99.065 unit roda dua dan 9.013 unit roda empat. Kondisi itu mengalami perubahan cukup besar pada periode September 2005. Pada periode yang sama tahun 2005, jumlah kendaraan bermotor mengalami kenaikan 18.204 unit (18 persen) per tahun. Persisnya, jumlah total kendaraan menjadi 126.282 unit. Dengan perincian, 116.486 roda dua dan 9.796 roda empat. Jumlah kendaraan bermotor yang rakus terhadap BBM itu dipastikan akan terus meningkat setelah diresmikannya Jembatan Suramadu.

Pemerintah selalu berdalih bahwa pembangunan jalan raya, termasuk Jembatan Suramadu, bertujuan memudahkan distribusi barang. Namun, mengapa pilihan distribusi barangnya harus berbasiskan jalan raya yang akan berujung pada pemborosan BBM? Mengapa pilihannya bukan pada revitalisasi armada pelayaran kita atau membangun jalur kereta api yang lebih hemat energi, karena dapat mendistribusikan barang dan manusia secara lebih banyak dalam waktu yang singkat daripada menggunakan kendaraan bermotor melalui jalan raya?

Tampaknya, kebijakan pemerintah soal transportasi belum beranjak dari paradigma lama yang berpihak kepada pembangunan jalan raya daripada infrastruktur transportasi publik yang lebih hemat energi dan ramah lingkungan. Komitmen pemerintah terhadap isu perubahan iklim yang diakibatkan oleh konsumsi energi fosil secara berlebihan pun pantas dipertanyakan. Celakanya, kebanggaan semu atas pembangunan Suramadu itu akan terus berlanjut. Rencana pembangunan jembatan yang membelah Selat Sunda dapat dijadikan indikasinya. Pembangunan jalan raya itu dipastikan akan semakin memperparah pemborosan BBM di masa depan.

Bukan hanya persoalan pemborosan energi, pembangunan Jembatan Suramadu dipastikan juga semakin menumpulkan visi dan misi Indonesia sebagai negeri kelautan. Seperti tertulis dalam website Dewan Kelautan Indonesia, bahwa salah satu misi Indonesia sebagai negara kelautan adalah membangun armada pelayaran, industri maritim, dengan memberikan perhatian yang lebih khusus pada pengembangan sistem transportasi, keuangan, iptek, dan SDM kelautan.

Dengan adanya Jembatan Suramadu, misi kelautan Indonesia itu dengan sendirinya terpatahkan. Betapa tidak, pembangunan jembatan itu dengan sendirinya akan mematikan armada pelayaran yang merupakan bagian dari sistem transportasi massal yang menghubungkan pulau-pulau di Indonesia. Bahkan, dalam sebuah portal berita, Direktur Jenderal Perhubungan Darat Iskandar Abubakar tanpa merasa bersalah mengatakan bahwa penurunan permintaan penyeberangan melalui kapal merupakan konsekuensi wajar bila Jembatan Suramadu resmi beroperasi.

Jika demikian halnya, ironis rasanya bila kita tetap melanjutkan kebanggaan semu atas Jembatan Suramadu dengan membangun jembatan lain yang menghubungkan antarpulau di Nusantara.

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: