Penyesatan Informasi dan Krisis Ekologi

communication1Koran TEMPO, 28 Maret 2009

Firdaus Cahyadi, KNOWLEDGE SHARING OFFICER FOR SUSTAINABLE DEVELOPMENT, ONEWORLD-INDONESIA

Pada akhir Maret 2008, masyarakat Pandiangan, Sumatera Utara, berunjuk rasa di sebuah lokasi pertam bangan. Aksi itu merupakan bentuk kekecewaan warga terhadap sebuah perusahaan tambang yang mengebor tanpa ada pemberitahuan terlebih dulu kepada masyarakat. Masyarakat khawatir atas adanya dampak buruk lingkungan hidup dari aktivitas pertambangan tersebut. Menurut catatan Walhi Nasional, dalam sosialisasinya, perusahaan pertambangan itu mengatakan tidak ada pengeboran di Desa Pandiangan. Bahkan dalam dokumen analisis mengenai dampak lingkungan (amdal) juga tidak dimasukkan Desa Pandiangan sebagai kawasan pertambangan.

Setelah mendapat tekanan warga, perusahaan pertambangan yang bersangkutan meminta maaf atas kelalaiannya dalam memberikan informasi terkait dengan aktivitas pengeboran di Desa Pandiangan. Selanjutnya, perusahaan pertambangan itu mengajak warga berdialog terkait dengan persoalan tersebut. Kelalaian perusahaan menginformasikan potensi dampak buruk lingkungan hidup ke masyarakat atas aktivitasnya bukan hanya terjadi di Sumatera Utara. Di berbagai tempat di Indonesia, kelalaian itu seperti telah menjadi sebuah kelaziman. Bahkan kelalaian itu juga terjadi di Ibu Kota Jakarta.

Seperti ditulis di website Tempointeraktif pada 16 Januari 2008, konstruksi jalan tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu (Becakayu) akan segera dibangun pada Maret 2008. Sedangkan di sebuah media massa lainnya, Ketua Asosiasi Pengusaha Jalan Tol Indonesia (APJTI) Fatchur Rochman mengatakan tahapan detail engineering design (DED) proyek tol Becakayu sudah selesai sebelum financial closing. Seharusnya, kalau DED sudah selesai, perusahaan yang akan membangun jalan tol Becakayu sudah mengantongi izin amdal.

Namun, fakta di lapangan berbicara lain. Berdasarkan surat yang ditandatangani Deputi Bidang Tata Lingkungan Kementerian Negara Lingkungan Hidup tertanggal 5 Februari 2008, dinyatakan bahwa proyek jalan tol Becakayu belum memiliki amdal. Padahal amdal adalah salah satu cara yang legal bagi masyarakat untuk mengetahui informasi mengenai potensi dampak buruk sebuah proyek pembangunan terhadap lingkungan hidup. Kelalaian, bahkan penyesatan informasi atas dampak buruk lingkungan itu, jika terus dibiarkan, akan mengorbankan keselamatan masyarakat. Kasus semburan lumpur Lapindo yang telah menenggelamkan sebagian wilayah Porong, Sidoarjo, dapat di jadikan contoh dalam hal ini.

Pada awal beroperasi, PT Lapindo Brantas diketahui tidak melakukan sosialisasi yang cukup kepada warga. Bahkan, seperti ditulis dalam buku yang berjudul Lapindo: Tragedi Kemanusiaan dan Ekologi, disebutkan bahwa saat pembebasan tanah milik warga, PT Lapindo Brantas mengatakan tanah warga yang dibeli itu nantinya dipergunakan untuk mendirikan usaha pakan ternak, bukan untuk kawasan pertambangan. Padahal, jika terdapat transparansi informasi sejak awal, mungkin tragedi semburan lumpur itu tidak akan pernah terjadi.

Beberapa saat setelah muncul semburan lumpur panas, pihak Lapindo mengatakan lumpur tidak membahayakan kesehatan. Namun, fakta yang terjadi di lapangan menunjukkan hal yang berlawanan. Setelah muncul semburan lumpur, tercatat 451 orang dilarikan ke Rumah Sakit Bayangkara, Sidoarjo. Menurut pernyataan Kepala RS Bayangkara, Sidoarjo, Kompol P .P. Hadi Wahyono, korban lumpur panas ternyata terkena penyakit ISPA (infeksi saluran pernapasan akut), hipertensi, mual, sakit kepala, dan gangguan bronkitis. Dari uraian di atas, kita akan menemukan sebuah pola bahwa krisis ekologi di berbagai tempat di Indonesia sering kali diawali dengan adanya kelalaian dan penyesatan informasi kepada masyarakat. Sering kali masyarakat memang dibiarkan tidak mengetahui informasi tentang potensi dampak buruk sebuah proyek bagi lingkungan hidup.

Hal itu dilakukan untuk mengurangi munculnya penolakan warga terhadap sebuah proyek. Informasi yang sering dikedepankan adalah mengenai dampak positif proyek dalam jangka pendek, semisal penambahan pendapatan asli daerah (PAD) dan terbukanya lapangan kerja baru. Sedangkan dampak buruk proyek tersebut secara jangka panjang bagi lingkungan hidup sengaja disembunyikan. Korporasi yang melakukan hal tersebut di atas secara sengaja sebenarnya dapat dikatakan telah melakukan sebuah kejahatan informasi.

Kelalaian dan penyesatan informasi itu tentu saja tidak boleh ditoleransi lagi. Terkait dengan hal itu, kegiatan yang dilakukan oleh Yayasan SHEEP Indonesia menarik untuk dijadikan bahan kajian. Yayasan tersebut telah membuat video tentang dampak buruk industri semen di Tuban dan kemudian menyebarkannya kepada warga Pati, Jawa Tengah, yang daerahnya akan menjadi sasaran pembangunan industri semen. Fakta yang tersaji dalam video itu, seperti ditulis Koordinator Lapangan Yayasan SHEEP Indonesia di majalah Tempo edisi 23 Februari 2009, ternyata dapat menjadi second opinion dari semua propaganda dan informasi sepihak perusahaan semen yang akan membangun pabriknya di Pati, Jawa Tengah. Kegiatan Yayasan SHEEP adalah salah satu upaya untuk membangun kesadaran masyarakat atas pentingnya informasi mengenai dampak buruk sebuah proyek terhadap lingkungan hidup. Tentu saja masih banyak cara dan strategi lain yang bisa dilakukan terkait dengan hal itu.

Krisis ekologi di berbagai tempat di negeri ini mendesak untuk dihentikan. Terkait dengan itulah, kelalaian dan penyesatan informasi kepada publik oleh korporasi pun harus segera diakhiri. Aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan jurnalis media massa pun mempunyai tanggung jawab moral untuk menjadi ujung tombak dalam mengakhiri penyesatan informasi untuk publik itu. Kedua kelompok masyarakat sipil itu dapat bekerja sama membongkar penutupan informasi mengenai proyek-proyek yang berbahaya bagi kehidupan masyarakat. Keberlanjutan kehidupan masyarakat harus diselamatkan dari keserakahan korporasi dalam mengeksploitasi sumber daya alam dan lingkungan hidup?

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: