Urbanisasi dan Kegagalan Program Ekonomi

Bisnis Indonesia-Jumat, 22/08/2008

Oleh Firdaus Cahyadi
Knowledge Sharing Officer for Sustainable Development OneWorld-Indonesia

Pagi itu, kereta rel listrik (KRL) kelas ekonomi tengah melaju kencang dari Bogor menuju Stasiun Tebet, Jakarta. KRL itu penuh sesak dengan para penumpang yang hendak ke Jakarta. Di tengah sesaknya KRL, seorang pemulung perempuan mencoba mengumpulkan sisa-sisa botol air mineral dari para penumpang.

Ternyata bukan hanya pemulung yang mencoba mengais rezeki di antara berjejalnya para penumpang KRL pagi itu, melainkan juga seorang pengemis perempuan, usia setengah baya, sambil menyusui balitanya juga mencoba mengais rejeki dari belas kasihan para penumpang.

Selanjutnya, bila pandangan mata kita arahkan ke jendela KRL, kita akan melihat hamparan perumahan kumuh dan padat berdiri di sebelah kiri dan kanan rel. sebagian besar rumah itu terbuat dari tripleks dengan atap dari seng.

Potret kemiskinan di Jakarta ternyata bukan hanya terlihat di dalam KRL atau di sepanjang rel kereta api, melainkan juga di hampir setiap sudut kota, potret kemiskinan itu dapat dilihat secara nyaris telanjang. Rumah-rumah kumuh di bantaran sungai, di bawah kolong tol, bahkan ada pula keluarga pemulung yang tidur di gerobak mereka. Mereka semua terpaksa tinggal di hunian yang tak layak itu karena harga tanah di kota ini semakin mahal dan tak terjangkau.

Kantong kemiskinan di kota ini ternyata makin meluas. Di Jakarta Utara misalnya, menurut Wali Kota Jakarta Utara Effendi Anas, hanya dalam dua tahun terakhir jumlah penduduk miskin meningkat dari 31.000 keluarga menjadi 55.000 keluarga. Sejak 2005 hingga awal 2008 jumlah penduduk miskin di Jakarta Utara bertambah sekitar 77,4%. Celakanya hal yang hampir sama juga terjadi di kawasan Jakarta lainnya.

Angka kemiskinan di kota ini dipastikan akan terus bertambah seiring dengan makin meningkatnya laju urbanisasi dari tahun ke tahun. Setiap tahun sekitar 200.000 hingga 250.000 jiwa datang ke Jakarta dari berbagai wilayah Indonesia, belum lagi ditambah aliran penglaju harian yang mencapai 4.094.359 jiwa (Sitramp, 2000).

Gagalnya revitalisasi pertanian yang ditandai dengan maraknya alih fungsi lahan pertanian menjadi salah satu penyebab maraknya urbanisasi ke wilayah perkotaan, termasuk Jakarta.

Selain itu, kehancuran lingkungan hidup di pedesaan juga memaksa sebagian besar orang desa yang mata pencariannya bergantung pada kelestarian sumber daya alam terpaksa berpindah ke kota, seperti Jakarta. Kasus pencemaran di Teluk Buyat dan tenggelamnya sebagian kawasan Porong akibat semburan lumpur Lapindo dapat dijadikan contoh dalam hal ini.

Kebijakan ekonomi politik

Sementara itu, dari sisi Kota Jakarta sendiri, urbanisasi lebih banyak disebabkan oleh kebijakan ekonomi dan politik nasional sejak Orde Baru yang menyatukan berbagai fungsi kota di Jakarta. Selain berfungsi sebagai pusat politik, kota ini juga berfungsi sebagai pusat pertumbuhan ekonomi.

Ironisnya, kebijakan Orde Baru itu masih dilestarikan hingga saat ini. Pada 22 Mei misalnya, Presiden Yudhoyono telah menandatangani Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 5 Tahun 2008 tentang Fokus Program Ekonomi Tahun 2008-2009 yang isinya justru dapat memicu kenaikan laju urbanisasi di Jakarta.

Salah satu poin dari Inpres tersebut adalah instruksi kepada Gubernur DKI Jakarta untuk mempermudah perizinan investasi di Jakarta. Dari sisi kependudukan, hal itu akan menjadi daya tarik baru bagi Jakarta bukan saja bagi investor, melainkan juga bagi meningkatnya laju urbanisasi yang berujung pada memperluasnya kantong-kantong kemiskinan di kota ini.

Terkait dengan hal itu maka tak heran bila hasil riset Procon Indah yang dipublikasikan pada triwulan kedua tahun ini menyebutkan bahwa dalam dua tahun ke depan telah direncanakan akan ada sekitar 13 proyek pusat perbelanjaan baru lagi di Jakarta.

Menurut riset tersebut, 40% penambahan pusat perbelanjaan akan berada di Jakarta Utara, 20% akan berada di Jakarta Selatan dan 18% di Central Business District (CBD) Jakarta. Sementara sisanya akan tersebar di berbagai daerah di Jakarta lainnya. Luas pusat perbelanjaan di Jakarta pun diperkirakan akan mencapai 3,33 juta m2.

Beberapa pusat perbelanjaan yang direncanakan akan beroperasi pada tahun 2008 ini antara lain Sudirman Place, Grand Paragon, Mall of Indonesia, Plaza Indonesia Extension, Emporium Pluit Mall, Epicentrum Walk, Pluit Village, dan Pulo Mas Ex-Venture.

Lahan di Jakarta kian terbatas, tak menyurutkan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk tetap menyediakan lahan baru bagi pembangunan kawasan kormersial. Pemprov DKI pun akan memulai reklamasi Pantai Utara (Pantura) Jakarta pada 2009 untuk menambah lahan bagi pembangunan kawasan komersial dan perumahan mewah.

Hal tersebut di atas bukan hanya semata-mata tanggung jawab Gubernur DKI Fauzi Bowo melainkan juga menjadi tanggung jawab pucuk pimpinan di negeri ini yang ikut melestarikan program pembangunan sentralistik ala Orde Baru.

Untuk menghentikan laju urbanisasi dan meluasnya kemiskinan di Jakarta, tidak bisa tidak, kebijakan nasional yang selalu menempatkan Jakarta sebagai pusat pertumbuhan ekonomi harus diakhiri. Begitu pula mimpi yang ingin menjadikan kota ini seperti Singapura.

Secara geografis, sosial dan ekologi kondisi Jakarta berbeda dengan Singapura. Jika keinginan untuk mengimpor model pembangunan dari negeri itu dipaksakan di kota ini maka berbagai problem sosial dan ekologi di Jakarta akan semakin sulit diurai.

Ini adalah sebuah pekerjaan rumah bagi presiden Republik Indonesia pada 2009 mendatang untuk membenahi hal itu semua. Presiden mendatang harus mempunyai kesadaran politik baru bahwa mempertahankan Kota Jakarta sebagai pusat pertumbuhan ekonomi justru akan membuat kota ini berada di ambang bencana, baik secara sosial maupun ekologi.

Categories: Uncategorized | 1 Comment

Post navigation

One thought on “Urbanisasi dan Kegagalan Program Ekonomi

  1. linda

    tolong para perintah cepat menangani masalah ini dan pihak2 yg bersangkutan segera turun tangan dan tidak hnya mementingkan KEPENTINGAN PRIBADI.NYA??????????????

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: