Jawa Timur perlu gubernur ‘hijau’

Harian Bisnis Indonesia/Rabu, 16/07/2008

Oleh: Firdaus Cahyadi, One World Indonesia

Apabila kita menyempatkan diri berkunjung ke ‘kota santri’ Gresik, Jawa Timur, kita akan menemukan hamparan tambak udang di kanan-kiri jalan. Namun, menurut seorang kawan yang merupakan penduduk asli ‘kota santri’ tersebut, pemandangan indah itu tidak lama lagi akan hilang. Pasalnya, satu per satu tambak udang kini perlahan-lahan telah berubah fungsi menjadi bangunan pabrik untuk industri.

Hal itu bermula dari jatuhnya hasil panen dari tambak udang yang diduga akibat pencemaran di sungai oleh industri dan juga kerusakan tanah. Ironisnya, dugaan itu tidak pernah menjadi inspirasi bagi para pakar di ITS dan Unair Surabaya untuk menelitinya. Padahal dua perguruan tinggi negeri ternama tersebut hanya berjarak beberapa kilometer dari Gresik.

Bukan hanya Gresik yang mengalami krisis ekologi. Magetan, sebuah kota kecil di ujung barat Jawa Timur, juga mengalami hal yang serupa. Hal itu tampak ketika kita berkunjung ke telaga Sarangan yang terletak di kaki Gunung Lawu. Dahulu udara di Telaga Sarangan sangat sejuk sehingga kita tidak akan pernah menemukan para pedagang es di kawasan itu.

Namun, sekarang di sekeliling telaga Sarangan bertebaran para penjual es karena kawasan itu kini menjadi panas, tidak lagi sejuk seperti dulu. Pasalnya, ratusan bahkan ribuan pohon di sekitar telaga yang dulu mampu menjaga temperatur lokal kawasan itu agar tetap sejuk kini telah tumbang dan digantikan oleh bangunan villa-villa mewah.

Tidak mengherankan apabila akhir-akhir ini kita mendengar berita di kawasan itu sering terjadi tanah longsor yang menelan korban jiwa.

Rangkaian krisis ekologi di Gresik dan Magetan belum seberapa apabila dibandingkan dengan krisis ekologi yang terjadi di Sidoarjo akibat semburan lumpur Lapindo. Betapa tidak, semburan lumpur Lapindo telah menenggelamkan sebagian wilayah Sidoarjo dan memaksa ribuan warganya menjadi pengungsi.

Penyebab dari krisis ekologi di Jawa Timur tersebut lebih disebabkan oleh ketiadaan kepemimpinan yang mampu mengelola sumber daya alam di kawasan itu secara berkelanjutan. Selama ini pemimpin di Jawa Timur hanya berperspektif jangka pendek dengan menjadikan sumber daya alamnya sebagai tumbal pencapaian target pertumbuhan ekonomi tanpa pernah memerhatikan daya dukung sosial dan ekologi dari sumber daya alam tersebut.

Tragedi lumpur Lapindo adalah bukti nyata dari ketidakpedulian pemimpin di Jawa Timur atas keberlanjutan ekologi di kawasannya. Betapa tidak, Peraturan Daerah (Perda) mengenai Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Sidoarjo periode 2003-2013 misalnya, menyatakan bahwa kawasan Porong, khususnya wilayah Siring, Renokenongo dan Tanggulangin adalah wilayah permukiman dan budi daya pertanian.

Namun, dengan mimpi ingin mengejar target pertumbuhan ekonomi jangka pendek, Pemda Jawa Timur mengizinkan Lapindo mengebor kawasan itu.

Akibatnya, bukan gas yang keluar melainkan banjir lumpur yang kini menenggelamkan kawasan itu (Walhi, 2008). Dari serangkaian krisis ekologi yang terjadi itulah muncul kebutuhan akan lahirnya seorang ‘gubernur hijau’ di Jawa Timur. Warna hijau di sini tidak terkait dengan simbol agama tertentu ataupun latar belakang militer tetapi sebuah kepedulian terhadap persoalan keselamatan ekologi yang kini mengancam Jawa Timur.

Ajang pemilihan kepala daerah (Pilkada) Jawa Timur adalah momentum bagi munculnya sang ‘gubernur hijau’ tersebut. Untuk menjaringnya diperlukan beberapa kriteria sehingga lahirnya ‘gubernur hijau’ di Jawa Timur ini tidak justru dibajak oleh kepentingan jangka pendek dari partai politik dan pemilik modal.

Pertama, ‘gubernur hijau’ haruslah mempunyai rekam jejak yang bersih dari keterlibatan perusakan lingkungan hidup di Jawa Timur dan juga di tempat lain. Jadi sangat tidak masuk akal apabila menjelang Pilkada ada calon gubernur (Cagub) yang mengklaim dirinya ‘hijau’ tetapi memiliki segudang pengalaman dalam berselingkuh dengan para pemilik modal dalam menghancurkan lingkungan.

Kedua, ‘gubernur hijau’ wajib memiliki program yang jelas dan terukur dalam memadukan pertumbuhan ekonomi dengan keberlanjutan ekologi dan sosial atau lebih sering disebut program pembangunan berkelanjutan (sustainable development) yang dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat Jawa Timur.

Jangan cuma jargon

Program itu tentunya tidak boleh sebatas jargon, tetapi juga harus diiringi dengan proyeksi anggaran untuk mendukungnya.

Ketiga, ‘gubernur hijau’ tidak boleh menerima dana kampanye dari perusahaan-perusahaan yang merusak lingkungan baik di Jawa Timur maupun di daerah lain. Sebagai contoh, sang calon ‘gubernur hijau’ tidak boleh menerima sumbangan dari kelompok korporasi yang terlibat dalam tragedi lumpur Lapindo.

Kriteria ini penting, karena publik tidak akan bisa berharap Gubernur Jawa Timur yang baru akan mampu menyelesaikan berbagai krisis ekologi apabila dalam menuju kursi kepemimpinannya dibiayai oleh perusahaan perusak lingkungan hidup.

Kriteria di atas memang tidak mudah tetapi bukan berarti tidak bisa dipenuhi. Publik Jawa Timur harus mulai mengampanyekan kriteria tersebut guna menandingi kampanye cagub yang selama ini cenderung sekadar tebar pesona dan mengaduk-aduk sentimen kelompok keagamaan tertentu.

Jika sang ‘gubernur hijau’ telah berhasil dilahirkan bukan berarti tugas politik publik di Jawa Timur sudah usai. Tugas berikutnya bagi publik yang telah berhasil membidani lahirnya ‘gubernur hijau’ adalah menjaganya agar dalam masa baktinya sang ‘gubernur hijau’ tidak tergoda untuk berselingkuh dengan kekuatan modal dengan mengabaikan komitmennya pada keberlanjutan ekologi di provinsi tersebut.

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: