Serahkan (kehancuran) Jakarta pada ahlinya

Harian Bisnis Indonesia/Jumat, 15/02/2008

Oleh Firdaus Cahyadi

Knowledge Sharing Officer for Sustainable Development, OneWorld-Indonesia

Saat kampanye calon gubernur (cagub) pada pemilihan kepala daerah (pilkada) Jakarta silam, Fauzi Bowo, yang kini terpilih menjadi Gubernur DKI Jakarta menyatakan bahwa dirinya adalah seorang ahli yang paling tahu dan mampu menyelesaikan persolan kota ini.

Untuk itu, jika ingin melihat Jakarta bebas dari persoalan banjir, kemacetan lalu lintas, polusi udara dan berbagai problem social lainnya maka warga kota diharapkan memilih gubernur yang ahli dan berpengalaman seperti Fauzi Bowo.

Dengan gelar akademik di bidang teknik dan pengalaman kerja di Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta yang dimiliki oleh Fauzi Bowo membuat warga Jakarta benar-benar terpesona dan yakin bahwa dia lah pemimpin yang akan mampu menyelesaikan semua persoalan pelik di kota ini. Bukti dari keyakinan itu kemudian diwujudkan dengan memilihnya menjadi gubernur baru di kota ini.

Kini setelah melewati 100 hari masa kepemimpinannya, warga kota mulai bertanya-tanya benarkah Jakarta sudah diserahkan pada ahlinya? Betapa tidak, belum genap satu tahun masa kepemimpinan Fauzi Bowo sebagai Gubernur DKI Jakarta, kota ini kembali dilanda oleh berbagai bencana yang diakibatkan oleh salah urus pembangunan yang tidak kunjung dibenahi.

Bencana itu adalah banjir air pasang di Muara Baru Jakarta Utara dan banjir yang melumpuhkan Jakarta pada awal Februari 2008.

Dengan latar belakang teknik, kedua bencana itu pun direspons oleh Gubernur Fauzi Bowo hanya dengan sebuah rekayasa teknik seraya tetap menjadikan alam sebagai kambing hitamnya.

Banjir air pasang di Muara Baru misalnya, direspons dengan menjadikan fenomena pemanasan global sebagi kambing hitam dan kemudian dijawab dengan rencana proyek meninggikan tanggul di kawasan tersebut.

Pendekatan publik

Begitu pula dengan banjir pada 2008 ini. Kali ini tingginya curah hujan menjadi kambing hitamnya dan kemudian dijawab dengan rencana proyek perbaikan sistem drainase serta penempatan pompa di berbagai kawasan yang rawan banjir.

Sementara itu, kegagalan model pembangunan yang terjadi selama ini tidak pernah sama sekali disentuh. Akibatnya, solusi yang dipilih dalam mengatasi bencana ekologi pun selalu menggunakan pendekatan proyek bukannya dengan pendekatan kebijakan publik (public policy).

Pendekatan kebijakan publik dalam mengatasi bencana ekologi di Jakarta diperlukan karena bancana tersebut diakibatkan oleh kegagalan model pembangunan kota. Untuk mengoreksi dan meluruskan model pembangunan ini harus didekati dengan sebuah kebijakan publik bukan dengan pendekatan proyek yang hanya mengedepankan rekayasa teknik semata.

Persoalan banjir Jakarta misalnya, jika menggunakan pendekatan proyek maka yang cara ditempuh hanya membenahi sistem drainase kota bukan membenahi tata ruang kota secara keseluruhan. Kondisi drainase kota memang buruk sehingga tidak mampu menampung air ketika hujan yang mengguyur Jakarta.

Namun, para pemegang kebijakan di kota ini mungkin lupa bahwa sistem drainase sebenarnya hanya sebagai ‘katup pengaman’ untuk mengalirkan air hujan yang sudah tidak terserap dalam tanah ke laut.

Data dari Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) DKI Jakarta menyebutkan bahwa menyusutnya daerah resapan air, baik berupa situ maupun ruang terbuka hijau, oleh aktivitas pembangunan telah menyebabkan dari 2.000 juta meter kubik air hujan yang turun di Jakarta tiap tahun, hanya 26,6% yang terserap dalam tanah. Sementara itu, sisanya, 73,4% menjadi air larian (run off) yang mengalir ke sistem drainase kota untuk dialirkan menuju ke laut (BPLHD DKI Jakarta, 2007).

Banjir di awal bulan Februari 2008 yang sempat melumpuhkan sebagian Jakarta lebih disebabkan oleh banyaknya air larian tersebut bukan oleh ‘air kiriman’ dari Bogor. Hal itu diperkuat dengan masih relatif normalnya ketinggian air di Jakarta pada saat sebagian wilayahnya terendam.

Rendahnya kemampuan tanah untuk menyerap air hujan di Jakarta disebabkan oleh berkurangnya daerah resapan air, baik berupa ruang terbuka hijau ataupun situ, di kota ini. Hutan kota di kawasan Senayan, misalnya.

Rencana Induk Jakarta 1965-1985 memperuntukkan kawasan seluas 279 hektare ini sebagai ruang terbuka hijau. Di atasnya hanya boleh berdiri bangunan publik dengan luas maksimal sekitar 16% dari luas total.

Namun, di kawasan itu kini telah muncul Senayan City (pusat belanja yang dibuka pada 23 Juni 2006), Plaza Senayan (pusat belanja dan perkantoran, dibuka 1996), Senayan Trade Center, Ratu Plaza (apartemen 54 unit dan pusat belanja, dibangun pada 1974), dan bangunan megah lainnya.

Alih fungsi

Pertanyaan berikutnya tentu saja adalah mengapa itu semua bisa terjadi? Kebijakan pembangunan yang tertuang dalam tata ruang kota Jakarta yang menjadikan kota ini pusat perdagangan dan jasa disamping sebagai pusat pemerintahan adalah penyebab utama terjadinya alih fungsi secara besar-besaran daerah resapan air menjadi kawasan komersial.

Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo yang telah mendapat kepercayaan dari warga kota sebagai ahlinya Jakarta harus mulai melihat berbagai bencana ekologi yang terjadi di kota ini dari sisi kebijakan tata ruang kota.

Solusi apa pun yang ditawarkan dalam mengatasi bencana ekologi, termasuk banjir, di Jakarta dipastikan tidak akan berhasil tanpa menyentuh aspek tata ruang kota sebagai koreksi atas model pembangunan kota yang telah terbukti gagal.

Untuk itulah diperlukan sebuah kemauan politik untuk membenahi tata ruang kota dengan mengedepankan prinsip-prinsip keberlanjutan daya dukung ekologi dan sosial. Warga kota pun tidak boleh tinggal diam.

Mereka harus berperan aktif dalam mendorong munculnya kemauan politik tersebut tersebut dari Gubernur DKI Jakarta. Tanpa adanya desakan dari warga kota terkait dengan hal itu maka sama saja dengan menyerahkan kehancuran Jakarta pada ahlinya.

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: