Praktek Eko-Fasis di Jakarta

Jum’at, 01 Februari 2008

Opini Koran TEMPO

Firdaus Cahyadi

Knowledge Sharing Officer for Sustainable Development, OneWorld-Indonesia

Meskipun belum genap setahun memimpin Kota Jakarta, itu tak menghalangi Gubernur Fauzi Bowo untuk segera mengulangi kebiasaan para pendahulunya melalui serangkaian kebijakan penggusuran terhadap warga kelas bawah. Bedanya, sementara dulu Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melakukan penggusuran atas nama pembangunan, kini Pemerintah DKI Jakarta melakukan hal serupa dengan mengatasnamakan perluasan ruang terbuka hijau (RTH).
Penggusuran pedagang di Pasar Bunga Barito, pedagang kaki lima di Bungur dan Pasar Senen, Jakarta, dipastikan akan terus berlanjut sepanjang kepemimpinan Gubernur Fauzi Bowo. Betapa tidak, Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) DKI Jakarta 2008 menyebutkan ada 16 lokasi permukiman padat penduduk di lima kota yang akan digusur. Menurut Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, penggusuran itu dilakukan untuk mengembalikan fungsi lahan yang sebelumnya adalah kawasan RTH. Dengan penambahan luas RTH ini diharapkan bencana ekologi berupa banjir dan buruknya kualitas udara di Kota Jakarta dapat diredam.
Lantas, jika tujuannya menambah luas RTH, mengapa hanya pedagang dari kelas bawah yang digusur? Sementara itu, para pemilik modal besar yang jelas-jelas mengalihfungsikan kawasan RTH secara masif menjadi kawasan komersial tidak “disentuh” oleh program perluasan RTH di Jakarta?
Data yang pernah dirilis oleh majalah Tempo menunjukkan kepada kita semua bahwa kawasan RTH di Jakarta sebenarnya justru banyak dialihfungsikan menjadi kawasan komersial oleh para pemilik modal besar, bukan oleh para pedagang kecil dan penduduk miskin lainnya (majalah Tempo edisi 35/XXXVI/22 – 28 Oktober 2007).
Hutan kota di kawasan Senayan, misalnya. Rencana Induk Jakarta 1965-1985 memperuntukkan kawasan seluas 279 hektare ini sebagai ruang terbuka hijau. Di atasnya hanya boleh berdiri bangunan publik dengan luas maksimal sekitar 16 persen dari luas total. Namun, di kawasan itu kini telah muncul Senayan City (pusat belanja yang dibuka pada 23 Juni 2006), Plaza Senayan (pusat belanja dan perkantoran, dibuka 1996), Senayan Trade Center, Ratu Plaza (apartemen 54 unit dan pusat belanja, dibangun pada 1974), dan bangunan megah lainnya.
Hal yang sama juga terjadi pada hutan kota Tomang. Rencana Induk 1965 dan 1985 memperuntukkan lahan di Simpang Tomang ini sebagai sabuk hijau Jakarta. Kini, hutan itu berubah menjadi Mediterranean Garden Residence I (apartemen, dibangun pada 2002, selesai 2004), Mediterranean Garden Residence II (apartemen, dijual pada 2005), dan Mal Taman Anggrek (apartemen dan pusat belanja, dibuka pada 2006).
Pengalihfungsian RTH secara besar-besaran menjadi kawasan komersial oleh para pemilik modal besar juga terjadi di kawasan Pantai Kapuk, Kelapa Gading, dan Sunter. Tapi sejauh ini Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tidak mengambil tindakan terhadap para pemilik modal besar tersebut. Sementara ketika sejumput RTH itu “dipakai” oleh para pedagang kecil, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dengan tegas menggusurnya.
Penggusuran pedagang kecil dengan mengatasnamakan perluasan RTH ini sejatinya adalah perwujudan nyata dari praktek ideologi eko-fasis, yaitu sebuah ideologi yang membenarkan adanya berbagai bentuk pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan dengan dalih pelestarian lingkungan. Dalam prakteknya, ideologi ini sering kali hanya ditujukan kepada komunitas yang tidak mempunyai akses terhadap modal dan kekuasaan. Sementara itu, orang-orang kaya yang memiliki akses terhadap modal dan kekuasaan, meskipun merusak lingkungan, tidak akan tersentuh olehnya. Hal itu kini sedang terjadi di Jakarta.
Pertanyaan berikutnya, mengapa Pemerintah Provinsi DKI Jakarta lebih memilih mempraktekkan ideologi eko-fasis ini dalam memenuhi desakan publik untuk memperluas kawasan RTH? Jalan pintas untuk menerapkan eko-fasisme dalam memperluas kawasan RTH ini dilakukan lebih karena tidak ada kemauan politik dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk mengaitkan target perluasan RTH dengan tata ruang Kota Jakarta secara keseluruhan. Program perluasan RTH tidak menjadi arus utama dalam perencanaan tata ruang Kota Jakarta.
Hal itu terlihat dengan masih bercokolnya keinginan untuk menempatkan Kota Jakarta sebagai kota jasa dalam tata ruang kota, selain sebagai pusat pemerintahan. Banyaknya fungsi kota yang harus diemban oleh Jakarta menjadikan kota ini diserbu banyak pihak untuk mencari penghidupan yang layak. Akibatnya, kawasan RTH diubah oleh orang-orang kaya di kota ini menjadi kawasan komersial. Dialihfungsikannya RTH oleh masyarakat kelas bawah menjadi tempat berdagang dan permukiman pun disebabkan oleh meningkatnya laju urbanisasi sebagai dampak dari perencanaan kota yang menjadikan Jakarta sebagai pusat jasa, perdagangan, dan pendidikan di luar fungsinya sebagai pusat pemerintahan.
Jika program perluasan RTH benar-benar hendak dijalankan, Pemda DKI Jakarta harus berani memasukkan kebijakan tentang moratorium (jeda) pembangunan kawasan-kawasan komersial baru dalam tata ruang Kota Jakarta selama periode tertentu. Dengan menghentikan pembangunan kawasan komersial baru di Jakarta, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan lebih mudah menata ulang Kota Jakarta secara lebih proporsional antara kepentingan bisnis dan pelestarian lingkungan.
Kebijakan moratorium itu juga dapat digunakan untuk mengurangi laju urbanisasi orang-orang daerah ke Jakarta, sehingga tekanan terhadap daya dukung ekologi dapat ditekan seminimal mungkin tanpa menggunakan pendekatan kekerasan. Namun, akhirnya semua berpulang pada Gubernur Fauzi Bowo, apakah sang gubernur akan memilih kebijakan yang ramah sosial dalam memperluas kawasan RTH atau justru bertahan pada kebijakan eko-fasis yang jelas-jelas menindas tersebut? *

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: