Menyoal komitmen lingkungan sektor perbankan

Harian Bisnis Indonesia

Sabtu, 26/01/2008

Oleh Firdaus Cahyadi
Knowledge Sharing Officer for Sustainable Development, OneWorld-Indonesia

Guna merealisasikan pembangunan jalan tol Bekasi – Cawang – Kampung Melayu (Becakayu), beberapa lembaga keuangan sepakat untuk membentuk sendikasi yang akan membiayai mega proyek senilai Rp5,73 triliun tersebut. Lembaga keuangan yang tergabung dalam sendikasi itu adalah BNI, BRI, Bukkopin, Bank Jabar, Bank Jatim, Bank Jateng, BPD Kaltim, Bank DKI Jakarta, BPD Sumsel, BPD Papua, Bank Nagari, BPDB Sumut, BPD Aceh, BPD Kalsel dan AAA Sekuritas.

Secara sekilas dari sisi ekonomi pembangunan jalan tol sepanjang 21 kilometer tentu tidak ada masalah bahkan justru memiliki prospek yang menguntungkan. Betapa tidak, menurut investor jalan tol Becakayu PT Kresna Kusuma Dyandra Marga, lalu lintas yang akan melewati jalan tol tersebut nantinya akan mencapai 80.000-100.000 kendaraan perhari. Dapat bayangkan betapa menguntungkannya proyek jalan tol Becakayu ini secara ekonomi

Namun, perhitungan keuntungan secara ekonomi itu tentunya belum memperhitungkan meningkatnya biaya kesehatan akibat kerusakan lingkungan yang ditimbulkan. Bukan tidak mungkin bila biaya sosial tersebut turut pula diperhitungkan, keuntungan dari investasi jalan tol tersebut akan berubah menjadi sebuah mimpi buruk yang menakutkan bagi masyarakat.

Penelitian di berbagai kota dunia yang menyatakan bahwa setiap ada penambahan panjang jalan justru akan memicu kemacetan lalu-lintas yang lebih parah dan juga polusi udara. Hal itu dikarenakan penambahan panjang jalan akan semakin mendorong hasrat sesorang untuk menggunakan kendaraan bermotor pribadi. Di California, misalnya, setiap 1% peningkatan panjang jalan dalam setiap mil akan menghasilkan peningkatan kendaraan yang lewat sebesar 0,9% dalam waktu lima tahun (Hanson, 1995).

Di Jakarta dalam kurun waktu 1999-2003 setiap ada pertambahan panjang jalan sepanjang 1 km akan selalu diikuti dengan pertambahan jumlah kendaraan bermotor sebanyak 1.923 unit mobil pribadi dan 3.000 kendaraan bermotor roda dua (Kajian Jaringan Jalan Tol DKI Jakarta, PT Pembangunan Jaya, Mei 2005).

Dapat dibayangkan betapa banyak pertambahan penggunaan mobil pribadi akibat pembangunan jalan tol Becakayu ini. Peningkatan penggunaan kendaraan bermotor pribadi ini tentu saja juga menguntungkan dari sisi pertumbuhan penjualan produk otomotif. Namun, bila dilihat dari sisi lingkungan hidup, pertambahan penggunaan kendaraan bermotor ini justru merupakan ancaman yang menakutkan.

Betapa tidak, penelitian JICA (1996) tentang beban emisi kendaraan bermotor di Jabodetabek menyebutkan bahwa dengan jumlah kendaraan yang kurang lebih 3 juta unit pada 1995 saja telah memberikan beban emisi untuk jenis polutan Karbonmonoksida (CO) sebesar 564,292 ton/tahun, Nitrogen Oksida (NOx) sebesar 98,788 ton/tahun dan Sulfur Oksida (SOx) sebesar 8,142 ton/tahun. Beban emisi itu dipastikan akan semakin meningkat seiring dengan meningkatnya pemakaian kendaraan bermotor.

Akibatnya, tentu saja meningkatnya biaya kesehatan yang akan ditanggung oleh masyarakat. Hal itu diperkuat oleh studi Bank Dunia pada 1994 yang menyebutkan kerugian ekonomi yang harus dipikul masyarakat Jakarta akibat polusi udara sebesar Rp500 miliar. Sementara itu, studi ADB (2002) memprediksikan kerugian ekonomi yang akan ditanggung masyarakat Jakarta pada 2015 akibat polusi udara dari jenis polutan Nitrogen Oksida (NO2) dan Sulfur Oksida (SO2) berturut-turut sebesar Rp132,7 miliar dan Rp4,3 triliun.

Tidak itu saja, seorang guru besar Fakultas Teknik UI, Professor Ismeth S. Abidin, meramalkan jika pola pembangunan infrastruktur transportasi seperti itu berlanjut pada tahun-tahun mendatang, penduduk Jabodetabek akan mencapai 30,5 juta pada 2015 dan 40,3 juta pada 2030 ditopang oleh kenaikan jumlah mobil penumpang dari 2,1 juta (2005) ke 5,7 juta (2015) dan 25 juta (2030). Dengan keadaan seperti ini bisa dibayangkan betapa banyak lahan terutama ruang terbuka hijau (RTH) dan daerah resapan air lainnya yang akan ‘dimakan olah jalan’ serta kacau-balaunya perkembangan lalu lintas angkutan jalan raya kelak.

Hasil studi ilmiah

Dari sisi sosial, argumentasi bahwa pembangunan jalan tol dari dan menuju Jakarta akan memicu pertumbuhan ekonomi yang pada akhirnya juga akan mengangkat perekonomian masyarakat miskin ternyata juga terbantahkan secara ilmiah. Hasil studi seorang ekonom dari Universitas Trisakti menyebutkan setiap Rp1 yang diinvestasikan dalam pembangunan jalan tol akan memberikan tambahan pendapatan bagi golongan keluarga kaya (berpenghasilan Rp21 juta/bulan) sebanyak 0,2415 kali. Sementara itu, untuk golongan miskin (dengan penghasilan kurang dari Rp800 ribu/bulan) hanya akan menambah penghasilannya sebesar 0,0095 kali (Budi Santosa, 2006). Dari studi itu terlihat bahwa pembangunan jalan tol di Jakarta justru akan memperlebar kesenjangan sosial yang ada di masyarakat.

Ironisnya biaya sosial dan ekologi tersebut tidak tidak pernah dipertimbangkan oleh sektor perbankan dalam mengalokasikan pembiayaan pada sebuah proyek sehingga tidak masuk struktur biaya ekonomi. Dalam keadaan begini, mudah dimengerti mengapa biaya pencemaran udara tidak masuk perhitungan ongkos ekonomi dalam setiap pembangunan jalan tol.

Pertanyaan berikutnya tentu saja adalah mengapa perusahan perbankan yang tergabung dalam sendikasi pembiayan jalan tol Becakayu tidak pernah memperhitungkan dampak lingkungan dari proyek yang telah dibiayai? Apakah memang mereka tidak memiliki sedikit pun komitmen terhadap keberlanjutan lingkungan hidup?

Kelihatan sekali bahwa pertimbangan ekonomi jangka pendek masih menjadi paradigma dominan di sektor perbankan kita. Sebaliknya keberlanjutan ekonomi secara jangka panjang yang merupakan hasil sinergi antara faktor ekologi, sosial dan ekonomi belum menjadi pertimbangan utama dalam pengambilan kebijakan-kebijakan bisnis oleh sektor perbankan nasional. Program corporate social responsibility (CSR) mereka pun tak lebih hanya jargon kosong yang sejatinya hanya ditujukan untuk memasarkan produk mereka, bukan perwujudan komitmen mereka terhadap masyarakat.

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: