Cukup Sudah Jakarta

Kamis, 03 Januari 2008

Opini-Koran TEMPO

Firdaus Cahyadi, PENULIS, TINGGAL DI JAKARTA

Sudah sejak Oktober 2007, warga Muara Baru, Jakarta Utara, mengalami banjir akibat air laut pasang. Berbagai analisis pun telah dibuat untuk mengetahui penyebab terjadinya air pasang itu. Seperti biasa, fenomena global yang jauh dari jangkauan kebijakan publik menjadi kambing hitamnya. Kali ini fenomena pemanasan global (global warming) dituding menjadi penyebab bencana itu.
Sebuah keniscayaan bila pemanasan global telah menyebabkan kenaikan muka air laut di dunia. Akibatnya, daerah di sepanjang pesisir akan terancam terendam, begitu pula daerah pesisir di Jakarta. Namun, apakah dampak pemanasan global menjadi faktor dominan yang menyebabkan banjir air pasang di wilayah Muara Baru, Jakarta Utara? Tidak adil rasanya jika kejadian banjir air pasang yang terjadi di Jakarta dilihat dari dampak pemanasan global semata. Model pembangunan Kota Jakarta harus juga dilihat sebagai faktor penyebab bencana ekologi tersebut.
Data dari Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) DKI Jakarta menyebutkan bahwa menyusutnya daerah resapan air, baik berupa situ maupun ruang terbuka hijau, oleh aktivitas pembangunan telah menyebabkan dari 2.000 juta per meter kubik air hujan yang turun di Jakarta tiap tahun, hanya 26,6 persen yang terserap dalam tanah. Sementara itu, sisanya, 73,4 persen, menjadi air larian (run off) yang mengalir ke sistem drainase kota untuk dialirkan menuju ke laut (BPLHD DKI Jakarta, 2007).
Artinya, ketika air laut mengalami pasang, dapat dipastikan 73,4 persen air larian itu tidak dapat mengalir ke laut alias menggenang di daratan. Dari situlah, tidak mengherankan bila ketika datang musim hujan, sekitar Oktober 2007, pasang air laut telah menyebabkan daerah Muara Karang dan daerah sekitar Jakarta utara lainnya semakin parah tergenang air bila dibanding saat musim kemarau.
Bukan hanya itu, pengambilan air tanah secara besar-besaran ditambah beban bangunan di atas tanah Jakarta telah menyebabkan penurunan permukaan tanah di kota ini beberapa sentimeter setiap tahun. Akibatnya, selain air dari sistem drainase sulit mengalir ke laut, menyebabkan semakin rentannya kawasan pesisir terkena banjir saat air laut pasang.
Kondisi di atas diperparah oleh adanya proyek reklamasi pantai utara Jakarta untuk pembangunan kawasan komersial dan permukiman mewah bagi orang-orang kaya di kota ini. Proyek reklamasi pantai utara Jakarta ini, selain mengubah geomorfologi (bentang alam), telah merusak sistem hidrologi kawasan pantai. Proyek reklamasi pantai juga telah menggusur hutan mangrove (bakau) yang berfungsi sebagai pelindung alami wilayah daratan bila terjadi air pasang/gelombang pasang dari laut.
Ironisnya, meskipun proyek reklamasi pantai utara Jakarta ini telah dinyatakan tidak layak lingkungan oleh Kementerian Negara Lingkungan Hidup, tatap saja mendapat restu dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Bahkan BPLHD DKI Jakarta yang seharusnya menjadi filter bagi proyek-proyek yang tak layak lingkungan justru berkeras “memperjuangkan” kelanjutan proyek ini dengan menyamarkan proyek reklamasi menjadi revitalisasi pantai utara Jakarta.
Model pembangunan kota yang tetap menjadikan pertumbuhan ekonomi sebagai panglima dengan mengesampingkan faktor ekologi dan sosial seperti di atas tampaknya masih akan terus berlanjut pada tahun-tahun mendatang. Hal itu terlihat dari rencana tata ruang Kota Jakarta pada 2010 yang masih menempatkan kota ini sebagai kota jasa di samping sebagai pusat pemerintahan (Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 1999).
Akibatnya, sudah barang tentu munculnya kewajiban pemerintah DKI Jakarta untuk selalu menyediakan lahan bagi munculnya kawasan-kawasan bisnis baru. Sementara itu, ketersediaan lahan di kota ini sangatlah terbatas. Proyek reklamasi pantai utara Jakarta yang merusak keseimbangan ekologi dilakukan sebagai bentuk kewajiban pemerintah DKI Jakarta menyediakan lahan bagi kawasan bisnis baru tersebut. Padahal setiap ada penambahan kawasan bisnis baru di Jakarta juga berarti akan semakin menarik banyak orang untuk datang ke kota ini, dan itu berarti akan meningkatkan laju urbanisasi. Akibatnya, makin beratlah beban ekologi dan sosial yang harus dipikul oleh kota ini.
Terjadinya bencana banjir air pasang di Muara Baru, Jakarta Utara, ini seharusnya dijadikan pelajaran oleh pemerintah DKI Jakarta untuk segera mengubah model pembangunan kota yang selama ini hanya mengejar pertumbuhan ekonomi. Pemerintah DKI Jakarta seharusnya mulai sadar bahwa segala sesuatu ada batasnya, termasuk pertumbuhan ekonomi. Bencana ekologi yang sering terjadi di Jakarta, termasuk banjir air pasang di Muara Baru, Jakarta Utara, adalah sebagian dari batas-batas tersebut.
Celakanya, setiap terjadi bencana ekologi, pemerintah DKI Jakarta justru sibuk menjadikan faktor alam sebagai kambing hitamnya dan tidak melihat bencana tersebut sebagai akibat gagalnya model pembangunan kota. Karena alam yang dikambinghitamkan, solusi yang dipilih pun selalu menggunakan pendekatan proyek, semisal membangun proyek kanal, deep tunnel, dan tanggul di tepi pantai.
Cukup sudah warga kota dibiarkan menderita oleh bencana ekologi yang diakibatkan oleh gagalnya model pembangunan selama ini. Jakarta beserta warga yang ada di dalamnya harus segera diselamatkan. Model pembangunan kota yang rakus akan pertumbuhan harus diakhiri. Tanpa adanya perubahan model pembangunan, setiap bencana ekologi yang terjadi di kota ini hanya akan dijadikan proyek baru oleh para konsultan pembangunan, lembaga-lembaga bisnis bantuan, dan juga para pejabat pemerintah yang korup.

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: