REDD dan proyek ‘cuci dosa’ Bank Dunia

Harian Bisnis Indonesia/ Senin, 03/12/2007


Proyek pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK) melalui pencegahan deforestasi dan perusakan hutan atau yang sering disebut sebagai proyek REDD (Reduced Emission from Deforestation and Degradation) menjadi popular menjelang pertemuan COP (Conference of the Parties) ke- 13 tentang perubahan iklim di Bali awal bulan ini.

Indonesia sebagai negara yang masih merasa memiliki hutan bersikeras memperjuangkan proyek REDD ini menjadi skema baru dalam pengurangan emisi GRK pada pertemuan COP 13. Jika hal itu berhasil, proyek yang bernilai triliunan rupiah akan segera diraup.

Ide dasar dari proyek ini adalah negara-negara utara membayar negara-negara selatan untuk mengurangi penggundulan hutan dalam wilayah mereka. Kompensasinya adalah dengan memberi bantuan keuangan untuk kepentingan tersebut. Beberapa pihak telah mengusulkan pendanaan proyek ini diambilkan dari kombinasi dana publik (Bantuan Pembangunan Resmi/ODA) dan pasar karbon.

Dukungan terhadap proyek REDD pun mengalir dari berbagai pihak tak terkecuali dari lembaga keuangan internasional seperti Bank Dunia. Bahkan lembaga keuangan itu berusaha dengan gigih menjadi badan internasional utama yang memimpin inisiatif global mengenai proyek tersebut.

Sejak tahun 2006 hingga awal tahun 2007, Bank Dunia mengembangkan usulan skema pendanaan baru yang sangat besar untuk membiayai proyek-proyek pada sektor kehutanan di negara berkembang. Lembaga keuangan ini berencana menggunakan skema baru itu untuk mengimplementasikan strategi kehutanan dengan penekanan kuat pada pendanaan yang terkait dengan isu perubahan iklim.

Bahkan dalam proposal Global Forest Alliance (GFA), Bank Dunia menargetkan pada 2015 terdapat 50 juta hektar kawasan lindung baru dan peningkatan kapasitas dari Departemen Kehutanan pusat untuk melindungi dan mengelola area-area tersebut (Avoided deforestation and the right of indigenous peoples and local communities).

Bencana ekologi

Sebelum kita terbuai dengan besarnya nilai proyek REDD dari Bank Dunia itu ada baiknya kita menoleh ke belakang guna melihat rekam jejak dari proyek-proyek pembangunan yang didanai Bank Dunia beserta dampaknya pada sektor kehutanan. Jadi kita tidak menjadi ‘tukang cuci piring’ dari sebuah pesta yang pernah dilakukan oleh lembaga keuangan internasional tersebut.

Di Brasil, misalnya, pada 1982-1985 Bank Dunia memberikan dukungan pada proyek pemindahan penduduk besar-besaran atas nama pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat yang lebih dikenal dengan proyek Polonoroeste atau di Indonesia lebih dikenal dengan proyek transmigrasi.

Dukungan keuangan pada proyek ini telah menghasilkan sebuah bencana ekologi yang dahsyat, bahkan Bank Dunia juga mengakui hal itu. Betapa tidak, proyek ini telah mendorong terjadinya konversi besar-besaran kawasan hutan menjadi lahan pertanian, kawasan komersial dan pertambangan.

Akibatnya, kawasan hutan di daerah itu mengalami degradasi yang cukup parah. Pada 1982, penggundulan hutan telah mencapai empat persen dan pada 1985 meningkat menjadi sebelas persen sementara pada tahun 1987 hampir seluruh hutan di kawasan itu telah lenyap. Bahkan pada tahun yang sama sebuah gambar dari citra satelit menunjukkan bahwa terdapat 6.000 titik api pembakaran untuk membuka hutan dari seluruh kawasan hutan Amazon.

Proyek semacam itu juga dilakukan oleh Bank Dunia di Indonesia. Lembaga ini merupakan pihak yang pertama kali terlibat dalam proyek transmigrasi di Indonesia pada tahun 1974. Sama seperti proyek Polonoroeste, proyek ini juga menimbulkan kerusakan dan penggundulan hutan besar-besaran.

Pulau Sulawesi dan Sumatera adalah kawasan yang paling parah menderita kerugian ekologi dari proyek ini. Di Sumatera, sekitar 2,3 juta hektar tanah yang semula merupakan hutan hujan alam telah menjadi lahan kritis. Sementara di Sulawesi, 30 persen wilayah hutan yang terkena proyek transmigrasi ini berubah menjadi lahan kritis (Lord of Property: The Power, Prestige, and Corruption of the International Aid Business, Graham Hancock, 1989).

Reputasi buruk proyek-proyek yang didanai oleh Bank Dunia terhadap kelestarian hutan menimbulkan pertanyaan, akankah proyek benar-benar serius dalam mendorong negara-negara selatan dalam menjaga hutannya untuk menyelamatkan bumi dari bencana perubahan iklim? Ataukah proyek-proyek pada sektor kehutanan yang didanai oleh Bank Dunia hanya sekadar proyek ‘pencuci dosa’ dari proyek-proyek pembangunan lainnya yang tidak ramah lingkungan?

Terkait dengan isu perubahan iklim, proyek pencuci dosa ekologi dari Bank Dunia ini menemukan relevansinya. Betapa tidak, meskipun gencar mendanai proyek rehabilitasi hutan, lembaga ini juga gencar mendanai proyek-proyek pada sektor energi fosil sebagai penyebab utama terjadinya perubahan iklim.

Pada periode tahun 1992 hingga 2004 misalnya, grup Bank Dunia justru mengucurkan US$28 miliar dananya untuk membiayai proyek yang terkait dengan energi fosil. Pada tahun fiskal 2005, proporsi pendanaan proyek energi terbarukan kurang lebih hanya lima persen dari seluruh pendanan dari Bank Dunia untuk proyek energi.

Untuk itulah, Indonesia yang selama ini gigih memperjuangkan proyek REDD dalam skema pengurangan emisi GRK pasca berakhirnya kesepakatan Protokol Kyoto perlu lebih cermat dan berhati-hati.

Reputasi buruk proyek-proyek Bank Dunia terhadap lingkungan hidup harus pula menjadi bahan pertimbangan dalam memosisikan diri dan bernegosiasi pada ajang COP 13. Jangan sampai negara sebesar Indonesia ini justru menjadi bulan-bulanan oleh politik dagang dan cuci dosa dari negara-negara kaya dan lembaga-lembaga keuangan internasional seperti Bank Dunia.

Oleh Firdaus Cahyadi
Knowledge Sharing Officer for Sustainable Development, OneWorld-Indonesia

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: