Proyek REDD & potensi pelanggaran HAM

Harian Bisnis Indonesia, Kamis, 22/11/2007
Sudah sering rasanya kita membaca laporan menyeramkan tentang dampak perubahan iklim terhadap kehidupan manusia. Kebanjiran, kelaparan, krisis air adalah beberapa bencana yang harus dihadapi umat manusia sebagai dampak dari perubahan iklim. Bahkan diperkirakan akan muncul berbagai pertikaian dan peperangan karena perebutan sumber daya alam yang semakin langka tersebut.

Begitu menakutkannya dampak perubahan iklim tersebut, sehingga berbagai negara, lembaga swadaya masyarakat dan media baik lokal maupun internasional seakan menyuarakan seruan yang seragam bahwa bumi harus segera diselamatkan dari bencana perubahan iklim.

Berbagai proyek mitigasi (pengurangan) gas rumah kaca (GRK) pun ditawarkan. Salah satunya adalah proyek pengurangan emisi GRK dari pencegahan deforestasi dan penghilangan hutan atau yang sering disebut sebagai proyek REDD (Reduced Emission from Deforestation and Degradation).

Bahkan pemerintah Indonesia yakin akan bisa mendapat sokongan dana hingga US$3,75 miliar (Rp33,75 triliun) per tahun dari negara-negara maju, lewat program proyek REDD tersebut.

Besarnya uang yang akan diterima negara kita dari proyek REDD tersebut begitu menyilaukan mata kita semua sehingga tidak ada yang menyoroti potensi pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dari proyek konservasi tersebut terhadap penduduk lokal dan komunitas adat yang selama ini memanfaatkan sumber daya hutan.

Padahal, beberapa kasus pelanggaran HAM sudah sering terjadi dengan mengatasnamakan kegiatan konservasi dan penyelamatan iklim global.

Di Uganda dan Ekuador misalnya, telah terjadi penyingkiran ribuan komunitas lokal dari hutan akibat privatisasi hutan oleh perusahaan-perusahaan Utara (negara maju) yang dibekingi oleh pemerintah setempat dengan mengatasnamakan konservasi dan tentu saja penyelamatan iklim global.

Potensi berdarah

Pelanggaran HAM terhadap penduduk lokal dalam proyek konservasi lahan juga telah sering terjadi di negeri ini. Setidaknya menurut catatan Walhi telah terjadi 356 konflik yang melibatkan penduduk lokal, negara, perusahaan perkebunan dan kehutanan sepanjang tahun 2003 hingga 2007 yang tersebar di 27 provinsi.

Konflik itu bermula dari keinginan negara untuk melakukan konservasi lingkungan tanpa memedulikan pemenuhan hak-hak penduduk lokal dalam mengakses sumber daya alam yang ada dalam kawasan konservasi tersebut. Sebaliknya, dari sisi pemilik modal berkepentingan untuk menjadikan kawasan konservasi sebagai wilayah yang mampu menghasilkan keuntungan yang lebih besar lagi secara ekonomi.

Kasus pelanggaran HAM di Taman Wisata Alam (TWA) Ruteng Manggarai, Nusa Tenggara Timur mungkin dapat dijadikan salah satu contoh dari proyek konservasi yang berlumuran darah. Konflik itu bermula dari keinginan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Manggarai untuk melakukan reboisasi melalui proyek Gerakan Rehabilitasi Nasional (GERHAN).

Dalam proyek itu 6.200 hektare kawasan permukiman dan perkebunan produktif penduduk lokal yang telah dikelola ratusan tahun lamanya digusur untuk dijadikan lahan konservasi. Dalam proses penggusuran tersebut, 86 petani ditangkap dan mengalami tindak kekerasan, sementara ada empat orang petani yang meninggal karena terkena peluru aparat.

Dari serangkaian konflik yang terjadi di kawasan konservasi selama ini menimbulkan kekhawatiran baru bila proyek REDD ini akan dijalankan dengan berdarah-darah. Adalah sebuah ketidakadilan bila penduduk lokal yang selama ini memanfaatkan hutan secara lestari harus tersingkir dari sumber-sumber kehidupannya bahkan dikorbankan pula hak hidupnya atas nama konservasi dan penyelamatan iklim bumi.

Padahal, jika dirunut dari akar permasalahannya, bukan mereka yang seharusnya bertanggung jawab terhadap meningkatnya suhu di atmosfir melainkan orang-orang kaya yang berada di kota dan di negara-negara Utara yang secara serakah mengonsumsi energi fosil. Terlebih proyek REDD dan proyek CDM (Clean Development Mechanism) lainnya pada hakekatnya adalah hanya untuk menjamin kebebasan negara-negara Utara agar dapat terus mengonsumsi secara berlebihan energi fosil dan mengemisikan GRK-nya ke atmosfer melalui skema perdagangan karbon (carbon trade).

Pertanyaan berikutnya tentu saja adalah apakah nantinya proyek REDD justru akan menjadi praktik konservasi berdarah jilid ke-2? Setidaknya kekhawatiran itu pernah dikemukakan oleh perwakilan masyarakat adat dalam sebuah konsultasi nasional tentang perubahan iklim di Jakarta pada akhir bulan September yang lalu.

Perwakilan masyarakat adat tersebut mengkhawatirkan, kalau dulu atas nama pembangunan hak kelola masyarakat adat pada kawasan hutan dirampas, maka bukan tidak mungkin nantinya atas nama penyelematan dunia dari perubahan iklim juga akan kembali merampas hak kelola adat tersebut.

Seharusnya pemerintah yang hendak memperjuangkan skema REDD pada pertemuan Conference of the Parties (COP) ke-13 tentang perubahan iklim di Bali pada awal Desember mendatang menyerap kegelisahan penduduk lokal dan masyarakat adat terhadap rencana proyek REDD tersebut.

Penduduk lokal dan masyarakat adat yang selama ini terbukti memiliki kearifan lokal dalam mengelola sumberdaya hutan secara lestari harus selalu dilibatkan sejak dari perencanaan hingga evaluasi dalam kegiatan konservasi untuk menyelamatkan bumi dari bencana perubahan iklim. Jangan sampai sedikit pun darah mereka kembali ditumpahkan untuk proyek konservasi tersebut.

Hal yang lebih penting lagi adalah jangan sampai hanya karena terkesima dengan besarnya nilai proyek dari REDD ini menjadikan pemerintah Indonesia dan negara-negara berkembang tidak fokus untuk mendesak negara-negara maju agar mengurangi keserakahannya dalam mengonsumsi energi fosil sebagai penyebab utama perubahan iklim.

Oleh Firdaus Cahyadi
Knowledge Sharing Officer for Sustainable Development, OneWorld-Indonesia

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: