Politik Utang Bank Dunia

bank-dunia.jpg
Koran TEMPO/Rabu, 05 September 2007

Opini

Firdaus Cahyadi
Knowledge Sharing Officer for Sustainable Development, One World-indonesia

Maraknya isu perubahan iklim akhir-akhir ini mengharuskan tiap-tiap negara di dunia memformulasikan kebijakan mengenai pengurangan (mitigasi) emisi gas rumah kaca (GRK) dari sektor energinya. Meskipun belum termasuk negara yang wajib mengurangi emisi GRK dari sektor energi, Indonesia sebagai bagian dari masyarakat dunia mempunyai niat baik melakukan mitigasi GRK tersebut.
Bagai gayung bersambut, niat baik Indonesia tersebut segera ditangkap Bank Dunia. Hal itu terlihat dari paparan Dr Josef Leitmann, Asian Environment Coordinator World Bank, dalam sebuah seminar tentang energi di Jakarta (23 Agustus). Beliau dengan lancar memaparkan profil emisi GRK dari sektor energi, kebijakan energi Indonesia terbaru, dan pilihan kebijakan yang bisa ditempuh oleh negara ini untuk mengurangi emisi GRK dari sektor energi.

Salah satu kebijakan yang ditawarkan Bank Dunia adalah teknologi penyimpanan emisi karbon (carbon capture and storage/CCS) dan teknologi batu bara bersih (clean coal technology/CCT). Tawaran teknologi ini dinilai sejalan dengan kebijakan mix (bauran) energi Indonesia pada 2025, yang mentargetkan penggunaan batu bara menjadi 33 persen dari seluruh penggunaan energi nasional. Target penggunaan batu bara dalam kebijakan bauran energi ini meningkat dua kali lipat dibanding pada 2005.

Dalam investment framework Bank Dunia tentang energi bersih dan pembangunan 2006 terungkap bahwa lembaga keuangan internasional ini dengan sangat jelas memasukkan CCT dan CCS sebagai pilihan proyek yang akan mendapatkan dukungan dana. Jadi tawaran kebijakan Bank Dunia untuk kebijakan mitigasi GRK dari sektor energi di Indonesia sudah sejalan dengan kerangka investasinya.

Pengaruh politik Bank Dunia dalam kebijakan mitigasi GRK tersebut sedikit demi sedikit mulai terlihat. Hal itu terbukti dari kebijakan Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral yang ternyata telah memasukkan penggunaan teknologi CCS dan CCT ke dalam skenario mitigasi GRK pada 2025 (Skenario Keenergian Indonesia Menghadapi Perubahan Iklim, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, 2007). Bahkan Departemen ini secara percaya diri mengatakan bahwa penggunaan teknologi CCS pada 2025 akan mampu mengurangi emisi karbon 20 persen.

Celakanya, Kementerian Negara Lingkungan Hidup juga serta-merta mengiyakan pilihan teknologi CCS ini. Menurut Kementerian Lingkungan Hidup, dengan menambahkan teknologi CCS pada sektor pembangkit listrik, dapat mengurangi GRK sehingga teknologi ini dapat dimasukkan dalam skenario konservasi energi. Seragamnya pendapat Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral dan Kementerian Lingkungan Hidup terhadap tawaran teknologi CCS dan CCT dari Bank Dunia justru menimbulkan kecurigaan bahwa kedua lembaga itu sebenarnya belum mengkaji secara mendalam pilihan teknologi tersebut. Bisa jadi mereka hanya mendapatkan informasi secara sepihak mengenai teknologi tersebut dari Bank Dunia.

Pertanyaan berikutnya, apakah pilihan kedua teknologi tersebut memang tepat bila diterapkan di Indonesia dalam rangka menurunkan emisi GRK dari sektor energi? Teknologi CCS yang akan menangkap emisi GRK dan menyimpannya di dalam tanah atau dasar laut, selain sangat mahal, ternyata justru berpotensi meningkatkan emisi GRK selama pengoperasiannya.

Perhitungan dari Intergovernmental Panel on Climate Change menyebutkan bahwa pembangkit listrik yang menggunakan teknologi CCS justru akan membutuhkan lebih banyak energi, 60-180 persen, daripada pembangkit yang tidak menggunakan teknologi CCS. Meningkatnya kebutuhan energi tersebut tentu saja akan berdampak pada meningkatnya emisi GRK. Selain itu, jika penyimpanan GRK itu dilakukan di dasar laut, akan berpotensi mengubah komposisi kimia laut sehingga akan mengancam ekosistem laut secara keseluruhan.

Begitu juga dengan teknologi CCT. Teknologi ini memang relatif akan mengeluarkan emisi GRK lebih rendah dibanding proyek batu bara yang konvensional, tapi tetap saja proyek ini tidak bisa dikatakan bebas dari emisi GRK. Di sisi lain, CCT juga merupakan sebuah proyek yang mahal, terlebih jika diterapkan di negara-negara miskin, seperti Indonesia. Jika dipaksakan, negara-negara miskin seperti Indonesia akan semakin terjerat utang hanya sekadar untuk membiayai proyek ini. Sebagai tambahan pula, secara sosial proyek-proyek pertambangan batu bara, meskipun menggunakan CCT, tetap berisiko menimbulkan masalah lingkungan hidup (di luar masalah emisi karbon) dan pelanggaran hak asasi manusia terhadap penduduk sekitar.

Seharusnya Indonesia lebih berhati-hati dan kritis terhadap tawaran Bank Dunia terkait dengan skenario mitigasi GRK dari sektor energi. Hal itu didasarkan pada tidak terlalu bagusnya rekam jejak Bank Dunia dalam pembiayaan proyek-proyek energi yang terkait dengan isu perubahan iklim.

Pada periode 1992-2004, misalnya, grup Bank Dunia justru mengucurkan US$ 28 miliar dananya untuk membiayai proyek yang terkait dengan energi fosil. Sementara itu, pada tahun fiskal 2005, proporsi pendanaan proyek energi terbarukan kurang-lebih hanya 5 persen dari seluruh pendanaan dari Bank Dunia untuk proyek energi (Civil Society Response to The World Bank‘s Investment Framework for Clean Energy and Development, 2006).

Pada pertemuan negara-negara G-8 di Genoa, Italia, pada 2001 pernah diajukan proposal yang merekomendasikan lembaga-lembaga keuangan internasional, seperti Bank Dunia, membantu proyek-proyek energi bersih di negara-negara miskin. Sayangnya, proposal itu kemudian ditolak oleh pemerintah Bush.
Dari uraian di atas, sudah selayaknya bila para pemegang kebijakan di negeri ini kembali mengkaji ulang kebijakan mitigasi emisi GRK dari sektor energinya. Jangan sampai kebijakan tersebut justru menjerumuskan negara ini pada jebakan utang luar negeri dan ketergantungan pada negara-negara kaya secara tak berkesudahan.

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: