Saatnya Membangun Jakarta

 20050809-pesona-monas.jpg

Selasa, 14 Agustus 2007

Opini-Koran TEMPO

Firdaus Cahyadi,  KAUKUS LINGKUNGAN HIDUP JAKARTA

Pemilihan kepala daerah DKI Jakarta usai dengan aman dan damai, pemenangnya pun sudah terlihat. Beberapa hari lagi Fauzi Bowo akan dilantik menjadi Gubernur DKI Jakarta menggantikan seniornya, Sutiyoso. Akankah pergantian pucuk pemimpin di Jakarta juga diikuti oleh perbaikan bagi Kota Jakarta?

Selama ini Kota Jakarta tampak lebih berpihak pada pemodal besar daripada kelompok ekonomi lemah: pedagang kecil dan warga miskin kota lainnya. Indikatornya, selama kepemimpinan Gubernur sebelumnya, yang kebetulan Fauzi Bowo menjadi wakilnya, pasar tradisional mengalami pertumbuhan negatif (-8,4 persen), tapi sebaliknya, pertumbuhan hipermarket melonjak 31,4 persen (AC Nielsen, 2005).

Hal itu semakin nyata dari besarnya penguasaan ruang di kota ini oleh para pemodal. Selama kurun waktu 2000-2005, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah memberikan izin lebih dari 3 juta meter persegi luas ruang yang ada di Jakarta untuk tempat belanja. Luas itu dua kali lipat dari luas seluruh pusat belanja yang dibangun di kota ini pada 1962-1997 (surat terbuka terkait dengan pemberian gelar honoris causa kepada Sutiyoso, Ecosocright 2007).

Dipacunya pertumbuhan kawasan komersial untuk kepentingan pemodal besar itu tidak hanya berdampak pada pemiskinan pedagang kecil, tapi juga berakibat hancurnya keseimbangan ekologi di kota ini. Indikatornya, terjadinya banjir bandang akibat makin besarnya air larian (run off) saat musim hujan. Tingginya run off itu sangat terkait dengan alih fungsi lahan dari ruang terbuka hijau dan situ menjadi kawasan komersial.

Pada 1990 persentase run off meningkat mencapai 53,87 persen. Pada 2003 persentase run off meningkat lagi menjadi 60,38 persen (Adi Wibowo, 2005). Data dari Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) DKI Jakarta yang terbaru menunjukkan bahwa run off di kota ini kini telah mencapai angka 70 persen (BPLHD DKI Jakarta, 2007).

Peningkatan kawasan komersial di Jakarta juga mengakibatkan kemacetan lalu lintas dan polusi udara makin parah. Betapa tidak, setiap kawasan komersial akan menarik banyak orang untuk datang ke kota ini. Mereka yang datang di kota ini sebagian besar menggunakan kendaraan bermotor pribadi. Akibatnya, jelas kemacetan lalu lintas dan polusi udara semakin parah. Untuk itu, tidak mengherankan bila data BPLHD DKI Jakarta 2006 menyebutkan bahwa hari dengan kategori udara tidak sehat meningkat menjadi 51 hari.

Selain masalah lingkungan, pembangunan kawasan komersial terbukti memberikan sebuah daya tarik yang kuat bagi meningkatnya laju urbanisasi di kota ini. Meningkatnya laju urbanisasi di kota ini diyakini telah mengakibatkan meningkatnya berbagai persoalan sosial kemasyarakatan, dari problem permukiman hingga kriminalitas.

Karut-marutnya kota ini sesungguhnya berawal dari paradigma yang keliru tentang pembangunan kota. Selama ini para pemegang kebijakan tidak menggunakan paradigma bahwa pembangunan Kota Jakarta harus diletakkan dalam kerangka pembangunan Indonesia secara keseluruhan. Hal itu tampak dari dipusatkannya seluruh multifungsi kota di Jakarta. Kota ini, selain sebagai pusat pemerintahan, berfungsi sebagai pusat pertumbuhan ekonomi. Maka tak aneh jika 50 persen lebih uang beredar di Jakarta.

Akibatnya, jika diibaratkan manusia, Jakarta tengah mengalami problem obesitas atau kegemukan. Celakanya, selama ini solusi yang diambil adalah dengan menutupi masalah kegemukan itu dengan memakai baju yang lebih longgar daripada ukuran tubuhnya. Hal itu tampak dari usul pembangunan enam jalan tol dalam kota dan reklamasi pantai utara untuk menambah ruang bagi pembangunan kawasan komersial baru.

Padahal solusi yang paling mujarab untuk mengatasi problem obesitas adalah dengan diet. Artinya, Jakarta harus mulai berbagi kue pembangunan dengan daerah lain, baik di Jawa maupun luar Jawa, sehingga selain pembangunan di kota ini tidak akan merusak daya dukung sosial dan ekologi, dapat mendistribusikan kue-kue pembangunan secara lebih adil serta merata ke seluruh Nusantara.

Namun, tampaknya paradigma baru tersebut belum dimiliki oleh Gubernur DKI Jakarta yang baru. Hal itu tampak dari program kerja semua calon gubernur saat kampanye, termasuk Fauzi Bowo, yang masih berkeras ingin menarik sebanyak-banyaknya investasi di kota ini, tanpa ada keinginan membaginya dengan daerah lain di luar Jakarta. Padahal, jika ketamakan kota ini terhadap investasi masih terus dipertahankan, keinginan warga kota agar Jakarta bisa lebih manusiawi tidak akan pernah tercapai.

Meskipun begitu, belum terlambat bagi Gubernur DKI Jakarta yang baru segera mengubah paradigma dalam membangun kota ini. Warga Jakarta harus ikut membantu gubernur barunya untuk segera menyadari bahwa paradigma pembangunan yang selama ini sering dikhotbahkan oleh para konsultan pembangunan dan diikuti oleh para pendahulunya adalah salah total.

Jika kebijakan publik yang diambil oleh Gubernur DKI Jakarta yang baru ini masih menggunakan paradigma usang, warga Jakartalah yang pertama kali menjadi korban. Warga Jakarta akan tetap mengalami kemacetan lalu lintas, menghirup udara kotor, meminum air yang tercemar, menjadi korban banjir, dan kenyamanannya terus terganggu akibat meningkatnya penyakit sosial di kota ini.

Untuk itu, warga Jakarta harus mulai menyadari bahwa hak politiknya tidak sekadar memilih atau tidak memilih dalam pemilihan kepala daerah, tapi juga berhak mempengaruhi dan mengontrol kebijakan publik yang dikeluarkan oleh gubernur baru tersebut. Warga kota ini harus mulai secara aktif berperan dalam setiap pengambilan kebijakan pembangunan. Jangan sampai pengambilan kebijakan pembangunan kota ini dibajak oleh para konsultan pembangunan yang masih menggunakan paradigma usang.

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: