Politik Transportasi Jakarta

id.indoglobal.com

Sumber gbr: id.indoglobal.com

Kamis, 05 Oktober 2006

Kolom Opini Koran TEMPO

Oleh:Firdaus Cahyadi
PENULIS, TINGGAL DI JAKARTA
Sebagai ibu kota negara, DKI Jakarta tentu memerlukan dana yang begitu besar untuk membiayai pembangunan. Dari mana dana pembangunan tersebut berasal ternyata sangat menentukan sekali corak dan arah pembangunan kota ini, termasuk politik transportasi yang dijalankan oleh Pemerintah Daerah DKI Jakarta.
Setidaknya, hingga 2005 pajak kendaraan bermotor dan bea balik nama kendaraan bermotor menjadi primadona dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah DKI Jakarta. Kondisi APBD DKI Jakarta yang seperti itu akhirnya tecermin dalam kebijakan-kebijakan pembangunan DKI Jakarta. Tengok saja, hingga 2005 pembangunan infrastruktur transportasi di DKI Jakarta banyak didominasi oleh pembangunan jalan, seperti terowongan, jembatan layang, dan pelebaran ruas-ruas jalan baru.

Pembangunan infrastruktur jalan raya tersebut sudah dipastikan akan semakin meningkatkan laju pertumbuhan kendaraan bermotor pribadi di Jakarta. Dari sisi APBD, tingginya laju pertumbuhan kendaraan bermotor ini tentu akan menambah pendapatan pemerintah DKI Jakarta. Namun, di sisi lain, daya dukung Kota Jakarta kian terbatas untuk terus-menerus memfasilitasi pertumbuhan kendaraan bermotor. Ruang-ruang yang tersisa di kota ini sangat tidak mungkin digunakan hanya untuk membangun jalan-jalan baru, lahan parkir, dan pompa bensin.
Selama ini pembangunan fisik untuk memfasilitasi pertumbuhan kendaraan bermotor terbukti telah mulai mengancam kepentingan warga kota. Salah satu akibat tingginya laju pertumbuhan kendaraan bermotor di Jakarta adalah polusi udara. Biaya kesehatan yang harus ditanggung warga Jakarta akibat polusi udara sangatlah tinggi. Studi terbaru menyebutkan bahwa biaya kesehatan akibat polusi udara di Jakarta pada 1998 telah setara dengan 100 persen dari total penerimaan pemerintah DKI Jakarta pada tahun tersebut (Syahrill, 2002).
Dampak lingkungan lainnya dari tingginya laju pertumbuhan kendaraan bermotor adalah makin tergusurnya ruang terbuka hijau (RTH) di Jakarta, karena dialihfungsikan menjadi fasilitas-fasilitas bagi kendaraan bermotor, seperti lahan parkir dan pompa bensin. Semakin tinggi laju pertumbuhan kendaraan bermotor, semakin besar pula potensi penggusuran RTH di Jakarta. Catatan Dinas Pertamanan DKI Jakarta menyebutkan 34 dari 250 lokasi taman kota yang ada di Jakarta telah beralih fungsi menjadi pompa bensin.
Selain hal tersebut, warga kota harus menanggung pula biaya yang diakibatkan oleh kemacetan lalu lintas. Studi SITRAMP (2004) menyebutkan kemacetan lalu lintas di Jabodetabek menimbulkan kerugian ekonomi Rp 5,5 triliun, dengan perincian Rp 3 triliun kerugian akibat biaya tambahan operasional dan Rp 2,5 triliun kerugian akibat lamanya waktu perjalanan. Bahkan dengan metode yang berbeda, hasil penelitian Yayasan Pelangi pada 2003 menyebutkan bahwa kemacetan lalu lintas di DKI telah menyebabkan kerugian akibat kehilangan waktu produktif Rp 7,1 triliun.
Seharusnya, turunnya target pendapatan dari pajak kendaraan bermotor dan bea balik nama kendaraan bermotor dalam APBD DKI Jakarta pada 2006 dijadikan momentum bagi pemerintah DKI Jakarta untuk memulihkan daya dukung lingkungan Jakarta dengan jalan mencari alternatif pembiayaan di luar dari pajak kendaraan bermotor. Namun, tampaknya pemerintah DKI Jakarta lebih nyaman mempertahankan paradigma lamanya dalam meningkatkan pendapatan di APBD, yaitu dengan memproduksi kebijakan-kebijakan pembangunan yang memfasilitasi pertumbuhan kendaraan bermotor daripada berpikir keras dan cerdas untuk mencari alternatif pembiayaan pembangunan dari sektor lainnya.
Rencana pembangunan enam ruas jalan tol dalam kota dan pelebaran jalan Jenderal Sudirman-M.H. Thamrin adalah bukti nyata enggannya para pejabat pemerintah DKI Jakarta mencari alternatif pendapatan tersebut. Padahal tanpa adanya keberanian memutus dominasi pajak kendaraan bermotor dalam APBD, akan sulit bagi pemerintah DKI Jakarta menyelesaikan masalah kemacetan lalu lintas dan polusi udara di kota ini.

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: