Membongkar Mitos Pembangunan Jalan Tol ‘Becakayu’

 

Car Free

Oleh: Firdaus Cahyadi


Di akhir bulan Februari tahun ini Pemerintah Pusat melalui Departemen Pekerjaan Umum berencana melanjutkan proyek pembangunan jalan tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu (Becakayu) yang sempat tertunda akibat krisis ekonomi pada tahun 1998. Hal itu ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Pengusahaan Jalan Tol (PPJT).

Argumentasi yang selalu dipakai dalam pembangunan jalan tol sepanjang 21,042 Km dan menelan biaya sekitar Rp. 6,1 trilyun adalah untuk mengatasi kemacetan lalu lintas di Jakarta dan merangsang pertumbuhan ekonomi di wilayah Jakarta yang pada akhirnya akan mensejahterakan warga kota. Warga Jakarta yang akan terkena dampak langsung dari proyek tersebut harus kritis terhadap argumentasi yang mendasari pemabangunan jalan tol ‘Becakayu’ tersebut. Apakah argumentasi tersebut didasarkan oleh pengalaman empiris dan penelitian ilmiah atau hanya sekedar mitos yang selalu diungkapkan untuk memperlancar sebuah proyek pembangunan?

Seperti biasa setiap rencana penambahan ruas jalan baru di Jakarta termasuk pembangunan jalan tol selalu dikaitkan dengan upaya mengurai kemacetan lalu lintas. Argumentasi ini didasarkan ketidakseimbangan antara pertumbuhan kendaraan bermotor dan panjang jalan di Jakarta. Data dari Dinas Perhubungan DKI Jakarta memang menyebutkan kemampuan untuk menambah panjang jalan hanya 1 persen sementara pertumbuhan kendaraan bermotor di Jakarta sebesar 9,8 persen per tahunnya. Proyek penambahan panjang jalan termasuk pembangunan jalan tol adalah salah satu upaya untuk mengejar ketertinggalan penambahan panjang jalan dari pertumbuhan kendaraan bermotor di Jakarta.

Untuk menguji argumentasi tersebut, pertanyaan pertama yang perlu diajukan adalah mungkinkah penambahan panjang jalan akan mampu mengejar laju pertumbuhan kendaraan bermotor? Di lihat dari keterbatasan tanah di Jakarta maka penambahan panjang jalan tidak akan pernah bisa mengimbangi pertumbuhan kendaraan bermotor.

Jika pola penambahan panjang jalan untuk mengimbangi pertumbuhan kendaraan bermotor ini tetap dipertahankan maka yang terjadi justru sebaliknya, yaitu akan semakin memicu pertumbuhan kendaraan bermotor di Jakarta. Sebuah penelitian ilmiah dan juga pengalaman empiris yang menyatakan bahwa pembangunan jalan tol di Jakarta akan mampu mengurai kemacetan lalu lintas. Studi kelayakan pembangunan jalan tol dalam kota Jakarta (PT. Pembangunan Jaya, Mei 2005) justru menyatakan bahwa setiap pertambahan jalan sepanjang 1 km di Jakarta akan selalu dibarengi dengan pertambahan kendaraan sebanyak 1923 mobil pribadi.

Hasil studi itu juga diperkuat oleh penelitian di berbagai kota dunia yang menyatakan bahwa setiap ada penambahan panjang jalan justru akan memicu kemacetan lalu-lintas yang lebih parah karena hal itu akan semakin mendorong hasrat atau rangsangan penggunaan kendaraan pribadi. (Taking Step, A.Rahman Paul Barter and Tamim Raad. 2000). Artinya, pembangunan jalan tol ‘Becakayu’ ini pun akan mengakibatkan hal yang sama yaitu semakin menambah kemacetan lalu lintas di Jakarta.

Pola pembangunan infrastruktur transportasi yang pro-kendaraan pribadi ini sempat membuat cemas beberapa ahli perencana kota. Guru Besar Fakultas Teknik UI, Professor Ismeth S. Abidin, meramalkan jika pola kerja seperti itu berlanjut di tahun-tahun mendatang, maka penduduk Jabodetabek akan mencapai 30,5 juta (2015) dan 40,3 juta (2030) ditopang oleh kenaikan jumlah mobil penumpang dari 2,1 juta (2005) ke 5,7 juta (2015) dan 25 juta (2030). Dengan keadaan seperti ini bisa dibayangkan betapa banyak tanah terutama Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan daerah resapan air yang akan “dimakan jalan” serta kacau-balaunya perkembangan lalu lintas angkutan jalan raya kelak.

Para penggiat lingkungan hidup juga dibuat cemas karena pembangunan jalan tol di Jakarta termasuk jalan tol ‘Becakayu’ selalu mengabaikan biaya sosial yang ditimbulkan akibat polusi udara yang merusak kesehatan masyarakat. Pertumbuhan penggunaan kendaraan bermotor pribadi yang akan difasilitasi oleh pembangunan jalan tol ‘Becakayu’ jelas akan semakin memperburuk kualitas udara di Jakarta.

Betapa tidak, penelitian JICA (1996) tentang beban emisi kendaraan bermotor di Jabodetabek menyebutkan bahwa dengan jumlah kendaraan yang kurang
lebih 3 juta unit pada tahun 1995 telah memberikan beban emisi untuk jenis
polutan Karbonmonoksida (CO) sebesar 564,292 ton/tahun, Nitrogen Oksida
(NOx) sebesar 98,788 ton/tahun dan Sulfur Oksida (SOx) sebesar 8,142
ton/tahun. Beban emisi itu tentu akan semakin meningkat seiring dengan meningkatnya pemakaian kendaraan bermotor.

Akibat dari polusi udara tentu saja meningkatnya biaya kesehatan yang akan ditanggung oleh warga kota. Studi yang dilakukan oleh Bank Dunia pada tahun 1994 menyebutkan kerugian ekonomi yang harus dipikul masyarakat Jakarta akibat polusi udara sebesar Rp.500 miliar. Sementara studi ADB (2002) memprediksikan kerugian ekonomi yang akan ditanggung masyarakat Jakarta pada tahun 2015 akibat polusi udara dari jenis polutan Nitogen Oksida (NO2) dan Sulfur Oksida (SO2) berturut-turut sebesar Rp.132,7 miliar dan Rp.4.3 triliun.

Sementara argumentasi bahwa pembangunan jalan tol dari dan menuju Jakarta akan memicu pertumbuhan ekonomi yang pada akhirnya juga akan mengangkat perekonomian maasyarakat miskin ternyata juga dipatahkan. Hasil studi seorang ekonom dari Universitas Trisakti menyebutkan setiap Rp. 1,- yang diinvestasikan dalam pembangunan jalan tol akan memberikan tambahan pendapatan bagi golongan keluarga kaya (berpenghasilan Rp. 21 juta/bulan) sebanyak 0.2415 kali. Sementara untuk golongan miskin (dengan penghasilan kurang dari Rp.800 ribu/bulan) hanya akan menambah penghasilannya sebesar 0.0095 kali (Budi Santosa, 2006). Dari studi itu terlihat bahwa pembangunan jalan tol di Jakarta justru akan memperlebar kesenjangan sosial yang ada di masyarakat.

Pembangunan jalan tol yang mengandalkan angkutan mobil pribadi dan memakai bahan bakar minyak akan mengakibatkan lebih tingginya biaya pencemarannya per penumpang dibandingkan dengan angkutan massal yang bisa mengangkut ratusan penumpang sekali jalan. Sehingga pembangunan infrastruktur transportasi bagi angkutan massal mestinya lebih lebih diutamakan daripada membangun jalan tol.

Ironisnya keuntungan sosial dan ekologi tersebut tidak “tertangkap” oleh pasar, sehingga tidak masuk struktur biaya ekonomi. Lagi pula “biaya pencemaran” akan dipikul olah publik yang menderita dampak negatif dari pencemaran tetapi tidak oleh pemilik modal secara individual, sehingga tidak diperlakukan sebagai “biaya perusahaan”. Dalam keadaan begini, mudah dimengerti mengapa biaya pencemaran udara tidak masuk perhitungan ongkos ekonomi dalam setiap pembangunan jalan tol.

Melihat betapa besar biaya sosial yang akan diakibatkan oleh setiap penambahan jalan di Jakarta maka timbul pertanyaan mengapa Departemen PU tetap bersikeras melanjutkan kembali rencana pembangunan jalan tol ‘Becakayu’? Dan mengapa pula DPRD dan Pemda DKI Jakarta tidak juga melayangkan keberatan terhadap rencana pembangunan infrastruktur transportasi yang akan berdampak buruk dari segi sosial dan lingkungan hidup bagi warganya tersebut? Kelihatan sekali bahwa paradigma untuk mengarustengahkan lingkungan hidup dalam kebijakan pembangunan belum disepakati oleh para pemegang kebijakan di negeri ini, baik di pusat maupun di daerah. Konsep pembangunan berkelanjutan lebih banyak diterima dalam bahasa retorik pidato tetapi tidak dalam kebijkan. Untuk itulah, sebagai warga kota nampaknya kita jangan terlalu berharap Jakarta akan segera terbebas dari permasalahan sosial dan lingkungan hidup.

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: