Menggugat ketidakadilan proyek CDM

Global Warming

Harian Bisnis Indonesia (Jumat, 27/07/2007 00:00 WIB)

Menggugat ketidakadilan proyek CDM

oleh :
Firdaus Cahyadi

Knowledge Sharing Officer (KSO) for Sustainable Development, One World-Indonesia

Jika tidak ada aral melintang pada 13-14 Desember tahun ini di Bali akan diselenggarakan pertemuan bertaraf internasional tentang perubahan iklim atau yang sering disebut Conference of Parties (COP) 13. Seperti biasanya, ajang itu nantinya akan menjadi arena negosiasi berbagai kepentingan negara-negara di dunia terkait isu perubahan iklim.

Dalam situs resmi Kementerian Negara Lingkungan Hidup (KLH) kita bisa melihat paparan posisi dan isu yang akan diperjuangkan Indonesia dalam ajang internasional itu. Sayangnya, posisi Indonesia yang tertuang dalam situs resmi itu tidak jauh dari isu proyek Clean Development Mechanism (CDM) beserta mekanisme pembiayaannya.

CDM sendiri adalah satu-satunya mekanisme fleksibel yang melibatkan negara berkembang menurut Protokol Kyoto. Dua mekanisme lainnya adalah Joint Implementation (JI) dan Emission Trading (ET). Semua mekanisme itu digagas karena begitu sulitnya memaksa negara-negara industri maju di belahan bumi utara untuk mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) sebagai penyebab perubahan iklim.

Posisi Indonesia yang tak jauh dari isu CDM itu nampaknya dilatarbelakangi oleh keinginan negeri ini untuk ikut berebut recehan (dana) dari isu perubahan iklim ini. Padahal sebagai tuan rumah pertemuan COP 13 seharusnya Indonesia dapat mengambil peran yang lebih berani dan strategis sebagai wakil dari negara-negara berkembang di belahan bumi selatan untuk membongkar ketidakadilan proyek CDM.

Sarat ketidakadilan

Mekanisme CDM yang selama ini berlaku terkesan hanya sekedar menyederhanakan masalah dan sarat dengan ketidakadilan. Betapa tidak, mekanisme tersebut seakan-akan memperbolehkan negara-negara utara untuk tetap mencemari atmosfer dengan GRK selama mampu membeli CER (Certified Emission Reduction) dari proyek-proyek CDM di negara-negara berkembang.

Penyederhanaan masalah pengurangan GRK dalam proyek CDM misalnya sangat nampak pada sektor kehutanan. Proyek CDM dalam sektor kehutanan didasarkan pada asumsi bahwa pohon dalam hutan mampu menyerap GRK di atmosfer. Padahal menurut kaidah ilmiah menyebutkan bahwa hutan, seperti juga laut, adalah bagian dari siklus karbon.

Artinya, di satu sisi ekosistem hutan memang mampu menyerap emisi karbon, namun di sisi lain ekosistem itu juga mengemisikan karbon meskipun jumlah yang diserap akan lebih banyak daripada yang dikeluarkan. Jadi, andaikan seluruh hutan di negara berkembang dapat direhabilitasi melalui proyek CDM maka tetap saja tidak mampu mengurangi emisi GRK seperti yang diharapkan oleh Protokol Kyoto selama negara-negara kaya tetap saja tidak mengurangi konsumsi energi fosilnya sebagai penyebab emisi GRK di atmosfer.

Ketidakadilan dalam proyek CDM di sektor kehutanan nampak dari prasyarat yang ditetapkannya. Di sektor kehutanan, proyek CDM tidak mengakui hutan alami, melainkan hanya mengakui hutan ‘buatan manusia’ pada lahan yang belum pernah menjadi hutan setidaknya pada 50 tahun sebelumnya. Artinya, masyarakat adat dengan kearifan lokalnya yang sudah beratus-ratus tahun melestarikan hutan alamnya tidak akan pernah mendapatkan kompensasi pendanaan dari mekanisme CDM ini.

Ketidakadilan berikutnya juga diakibatkan oleh sulitnya teknis perhitungan daya ikat emisi karbon oleh masing-masing pohon dalam sebuah hutan heterogen. Artinya, yang berpeluang besar mendapatkan mekanisme pendanaan dari proyek CDM ini adalah hutan dari tanaman monokultur. Sehingga yang berpeluang besar berpartisipasi dalam proyek CDM adalah para pengusaha hutan tanaman industri (HTI) bukan masyarakat lokal yang hidup di dalam dan sekitar hutan heterogen.

Meskipun proyek CDM terlihat bias kepentingan negara-negara industri maju namun proyek ini mendapat dukungan dari lembaga-lembaga pembiayaan internasional semacam Bank Dunia.

Lembaga keuangan ini tercatat sebagai pembeli kredit karbon dari proyek CDM yang paling royal. Nilai transaksinya pada 2005 diperkirakan mencapai US$10 miliar.

Namun ironisnya, di sisi lain Bank Dunia tidak berhenti untuk mendanai proyek-proyek energi fosil. Pada periode 1992 hingga 2004 misalnya, group Bank Dunia justru mengucurkan US$28 miliar dananya untuk membiayai proyek yang terkait dengan energi fosil. Sementara pada tahun fiskal 2005, proporsi pendanaan proyek energi terbarukan kurang lebih hanya 5% dari seluruh pendanan dari Bank Dunia untuk proyek energi (Civil Society Response to The World Bank’s Investment Framework for Clean Energy and Development, 2006).

Kebijakan Bank Dunia yang menggunakan standar ganda tersebut semakin menegaskan bahwa paradigma yang menjadi pijakan proyek CDM sebenarnya adalah menempatkan negara-negara berkembang sebagai ‘tempat sampah’ bagi emisi GRK yang dihasilkan oleh negara-negara maju.

Untuk itulah dalam pertemuan COP di Bali pada bulan Desember mendatang harusnya dijadikan momentum oleh Indonesia untuk menggalang kekuatan negara-negara berkembang dari belahan bumi selatan untuk menggugat ketidakadilan dalam proyek CDM ini bukan justru sibuk berebut recehan dalam proyek CDM yang tidak adil dan bias kepentingan negara-negara utara.

Setidaknya Indonesia dan negara-negara berkembang lainnya harus mulai mendesakkan klausul baru dalam mekanisme CDM yang berisi kewajiban negara-negara industri maju untuk tetap mengurangi emisi GRK di negaranya tanpa dikaitkan dengan pembelian CER dari proyek-proyek CDM di negara-negara berkembang. Singkatnya, pembelian CER dari proyek CDM tidak serta merta menggugurkan kewajiban negara-negara utara untuk mengurangi emisi GRK-nya.

Hal itu didasarkan pada kenyataan bahwa setiap kegagalan negara-negara industri maju dalam mengurangi emisi GRK maka akan mempercepat terjadinya perubahan iklim. Padahal negara-negara berkembanglah yang paling rentan terkena dampak dari perubahan iklim tersebut.
bisnis.com
URL : http://web.bisnis.com/edisi-cetak/edisi-harian/opini/1id16240.html

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: