Menimbang untung-rugi reklamasi pantai Jakarta

Harian Bisnis Indonesia, Jumat, 06/07/2007

Oleh Firdaus Cahyadi
Pelaksana Harian-Kaukus Lingkungan Hidup JakartaMenjelang pemilihan Gubernur DKI Jakarta yang baru, rencana reklamasi pantai) Jakarta kembali mencuat. Proyek sebesar Rp 3,499 triliun dan sempat terganjal oleh Keputusan Menteri (Kepmen) Negara Lingkungan Hidup Nomor 14 Tahun 2003 karena dinilai tidak layak lingkungan ini kembali akan dikerjakan oleh Pemerintah Provinsi (Pemrov) DKI Jakarta paling lambat 2008.

Jika ditinjau secara geomorfologi pantai Jakarta terbentang sepanjang 32 kilometer. Bagian yang akan direklamasi sejauh 1,5 kilometer dari bibir pantai ke arah laut dengan kedalaman maksimal mencapai 8 meter. Reklamasi itu rencananya akan dimulai dari sebelah timur perbatasan Cilincing dengan Kabupaten Bekasi hingga sebelah barat perbatasan Penjaringan dengan Kabupaten Tangerang. Kelak di lahan baru tersebut selain diperuntukkan bagi pembangunan kawasan komersial berupa industri, fasilitas kegiatan pariwisata, perkantoran dan sarana transportasi akan dibangun pula kompleks perumahan mewah untuk orang-orang kaya dengan kapasitas 750.000 jiwa.

Pembangunan kawasan komersial dan permukiman mewah itu menurut Pemrov dan DPRD DKI jelas akan mendatangkan banyak keuntungan ekonomi bagi Jakarta. Asumsi yang dipakainya adalah semakin banyak kawasan komersial yang dibangun maka dengan sendirinya juga akan menambah pendapatan asli daerah (PAD) kota ini. Benarkah proyek reklamasi Pantura Jakarta akan mendatangkan keuntungan bagi kota ini?

Perhitungan potensi keuntungan yang akan diperoleh Jakarta itu hanya bedasarkan PAD yang akan didapatkannya. Padahal jika biaya-biaya sosial dan kerusakan lingkungan dimasukkan dalam perhitungan investasi maka keuntungan yang didapat dari PAD tersebut akan terkoreksi secara significant, bahkan bisa saja justru buntung alias merugi.

Dampak lingkungan hidup yang sudah jelas nampak di depan mata akibat proyek reklamasi itu adalah kehancuran ekosistem berupa hilangnya keanekaragaman hayati di Suaka Margasatwa Muara Angke yang merupakan satu-satunya kawasan hutan bakau yang tersisa di kota ini. Hal itu disebabkan reklamasi pantai Jakarta diperkirakan akan menimbun perairan di kawasan seluas 2.700 ha dengan bahan material sebanyak 330 juta m3.

Keanekaragaman hayati yang diperkirakan akan punah akibat proyek itu antara lain berupa hilangnya berbagai spesies bakau di Muara Angke, punahnya ribuan spesies ikan, kerang, kepiting, burung dan berbagai keanekaragaman hayati lainnya.

Dampak lingkungan lainnya dari proyek reklamasi pantai Jakarta adalah  meningkatkan potensi banjir di kota ini. Hal itu dikarenakan proyek tersebut akan mengubah bentang alam (geomorfologi) dan aliran air (hidrologi) di kawasan Jakarta Utara. Perubahan itu antara lain berupa tingkat kelandaian, komposisi sedimen sungai, pola pasang surut, pola arus laut sepanjang pantai dan merusak kawasan tata air seluas 10.000 ha (Herdianto WK, 2006). Potensi banjir akibat proyek reklamasi itu akan semakin meningkat bila dikaitkan dengan adanya kenaikan muka air laut yang disebabkan oleh pemanasan global.

Sementara itu, secara sosial rencana reklamasi pantai Jakarta tersebut dipastikan juga menyebabkan 125.000 nelayan tergusur dari sumber-sumber kehidupannya. Penggusuran itu dilakukan karena kawasan komersial yang akan dibangun mensyaratkan pantai sekitarnya bersih dari bagang-bagang (perangkap ikan) nelayan.

Penggusuran itu dapat dikatakan sebagai upaya pemiskinan warga sekitar yang berprofesi sebagai nelayan. Jika itu terjadi maka sudah dapat dipastikan ratusan ribu anak nelayan pun akan terancam putus sekolah dan ribuan balita juga akan terancam kehilangan jaminan kesehatannya (Walhi Jakarta, 2006).

Membongkar paradigma

Berbagai biaya sosial dan lingkungan hidup itu seharusnya juga diperhitungkan dalam perencanaan reklamasi Pantura Jakarta. Namun, sayangnya Pemrov DKI Jakarta masih bertahan pada paradigma yang memosisikan kota ini sebagai kota multifungsi. Dengan multifungsi yang diemban Jakarta, diharapkan mampu mendatangkan keuntungan yang sebesar-besarnya bagi kesejahteraan warganya. Padahal paradigma itu telah terbukti gagal total dalam implementasinya di lapangan. Berbagai permasalahan sosial dan lingkungan hidup yang sulit dipecahkan di Jakarta saat ini justru disebabkan  oleh paradigma tersebut.

Polemik seputar proyek reklamasi Pantura Jakarta yang mencuat kembali pada akhir-akhir ini seharusnya dijadikan momentum untuk membongkar paradigma usang dalam perencanaan tata ruang kota Jakarta. Pemrov dan DPRD DKI Jakarta bersama-sama warga kota lainnya perlu segera merumuskan kembali perencanaan tata ruang kotanya dengan tidak menempatkan persoalan lingkungan dan sosial hanya sebagai tempelan dari dokumen tersebut.

Tata ruang kota yang baru nantinya harus memerhatikan kemampuan daya dukung sosial dan ekologi bagi pengembangan Kota Jakarta. Daya dukung sosial dan ekologi tidak dapat secara terus-menerus dipaksakan untuk mempertahankan Jakarta sebagai pusat kegiatan ekonomi dan politik. Fungsi kota sebagi pusat perdagangan, jasa dan industri harus secara bertahap dipisahkan dari fungsi kota ini sebagai pusat pemerintahan.

Konsekuensinya, pembangunan kawasan-kawasan komersial harus diakhiri bahkan mulai dipilah-pilah untuk secara bertahap direlokasi keluar Jakarta. Kebijakan relokasi ini selain akan mengurangi tekanan secara ekologi dan sosial juga akan mendistribusikan “kue-kue” pembangunan ke luar Jakarta secara lebih adil. Tanpa ada revitalisasi terhadap tata ruang kota maka selamanya Jakarta akan dibelit permasalahan sosial dan ekologi yang akan lebih parah lagi.

Dengan revitalisasi tata ruang kota yang lebih ramah lingkungan dan sosial tersebut maka Pemrov DKI Jakarta tidak lagi punya kewajiban politik untuk menyediakan lahan baru bagi ‘perlombaan’ pembangunan kawasan komersial baru di kota ini seperti pada kasus reklamasi pantai Jakarta.

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: