Perubahan iklim dan kebijakan energi Bank Dunia

Harian Bisnis Indonesia, 14 Jun 07

Oleh: Firdaus Cahyadi

 

  Akhir-akhir ini isu lingkungan hidup yang sering muncul di media massa baik cetak maupun elektronik adalah isu tentang perubahan iklim. Dampak buruk yang ditimbulkannya memaksa kita semua untuk mengikuti perkembangan isu ini, tak terkecuali lembaga-lembaga keuangan internasional semacam Bank Dunia.

Komposisi internal Bank Dunia yang didominasi oleh negara-negara kaya dari belahan bumi utara sebagai penyumbang gas rumah kaca (GRK), bahkan dominasi Amerika Serikat sebagai penentang utama Protokol Kyoto dalam lembaga itu, menimbulkan pertanyaan benarkah Bank Dunia akan serius menangani isu perubahan iklim ini?

Saat pertemuan dunia tentang pembangunan berkelanjutan di Rio de Janerio pada 1992, Bank Dunia dan UNEP dipercaya untuk memobilisasi sumber daya keuangan guna membiayai implementasi dari hasil konvensi tentang perubahan iklim (UN Framework Convention on Climate Change). Celakanya, mandat tersebut ternyata tak cukup kuat untuk menghalangi Bank Dunia dalam melanjutkan dukungan finansialnya pada proyek-proyek energi konvensional yang berpotensi menimbulkan emisi GRK.

Pada periode 1992 hingga 2004, group Bank Dunia justru mengucurkan US$28 miliar dananya untuk membiayai proyek yang terkait dengan energi fosil. Sementara pada tahun fiskal 2005, proporsi pendanaan proyek energi terbarukan kurang lebih hanya 5% dari seluruh pendanan dari Bank Dunia untuk proyek energi (Civil Society Response to The World Bank’s Investment Framework for Clean Energy and Development, 2006).

Perkembangan selanjutnya pada pertemuan negara-negara G-8 di Genoa, Italia 2001 diajukan proposal agar negara-negara kaya mendorong penggunaan energi terbarukan di seluruh dunia. Proposal itu juga merekomendasikan lembaga-lembaga keuangan internasional seperi Bank Dunia untuk membantu proyek-proyek energi bersih di negara-negara miskin. Sayangnya proposal itu kemudian ditolak oleh pemerintahan Bush.

Setelah inisiatif itu mengalami kegagalan, maka di pertemuan G-8 di Gleneagles, Scotlandia 2005 para pimpinan negara G-8 kembali meminta Bank Dunia berada di garda terdepan dalam memberikan dukungan finansial pada proyek-proyek yang berhubungan dengan energi bersih.

Untuk memenuhi harapan dari negara-negara G-8 tersebut, pada April 2006 Bank Dunia membuat investment framework tentang energi bersih dan pembangunan yang kemudian disempurnakan pada Agustus 2006. Investment framework Bank Dunia tersebut memasukkan batu bara bersih (clean coal), energi nuklir dan teknologi penangkap dan penyimpanan emisi karbon (Carbon Capture and Storage/CCS) sebagai pilihan proyek yang akan mendapatkan dukungan dana.

Pertanyaan berikutnya tentu saja sejauh mana efektifitas proyek-proyek tersebut dalam menurunan emisi GRK di atmosfir bumi kita? Pertama, proyek clean coal. Proyek ini memang relatif akan mengeluarkan emisi GRK lebih rendah dibandingkan proyek batu bara yang konvensional, namun tetap saja proyek ini tidak bebas dari emisi GRK. Proyek clean coal merupakan sebuah proyek yang mahal, terlebih jika diterapkan di negara-negara miskin. Jika dipaksakan, maka negara miskin akan semakin terjerat utang hanya untuk membiayai proyek itu. Padahal teknologi lain seperti tenaga angin selain akan memotong emisi GRK juga lebih murah. Sebagai tambahan pula, secara sosial proyek-proyek pertambangan baru bara sering pula menimbulkan masalah lingkungan hidup (di luar masalah emisi karbon) dan pelanggaran HAM terhadap penduduk sekitar.

Kedua, proyek energi nuklir. Proyek ini dinilai sebagai proyek yang ramah lingkungan didasarkan pada asumsi reaktornya tidak mengemisikan gas GRK. Padahal asumsi itu mengabaikan emisi GRK pada saat penambangan uranium, pengayaannya hingga saat penyimpanan limbahnya. Meskipun total emisi GRK dari energi nuklir ini lebih baik dibandingkan energi fosil namun dalam hal pengurangan emsi GRK masih kalah dibandingkan dengan energi matahari atau angin. Belum lagi bila ditinjau dari keekonomiannya dan bahayanya bila terjadi kecelakaan di reaktornya.

Ketiga, teknologi CCS. Teknologi yang akan menangkap emisi GRK dan menyimpannya di dalam tanah atau dasar laut dinilai mampu mengurangi jumlah GRK di atmosfir. Sayangnya belum ada jaminan bahwa GRK yang disimpan di dalam tanah atau laut tidak menimbulkan dampak negatif bila bereaksi secara kimia dengan mineral yang ada di dalam bumi. Selain itu, proyek padat modal ini juga belum memperhitungkan besarnya emisi GRK yang dihasilkan selama implementasinya.

Tetap kritis

Dari uraian di atas terlihat bahwa peran Bank Dunia dalam ikut menurunkan GRK di atmosfir bumi tidak perlu terlalu diharapkan, terutama oleh negara-negara di belahan bumi selatan seperti Indonesia. Sebaliknya, negara-negara selatan harus tetap bersifat kritis terhadap proyek-proyek Bank Dunia yang terkait dengan isu perubahan iklim, baik di sektor energi ataupun di sektor lainnya.

Dampak lingkungan hidup di luar masalah emisi GRK, seperti pencemaran air, tanah, dan laut perlu dipertimbangkan sebelum membuat kesepakatan proyek yang terkait dengan perubahan iklim dengan Bank Dunia. Selain itu, dampak sosial berupa potensi konflik dan hilangnya hak ekonomi, sosial dan budaya dari penduduk di sekitar proyek pun harus tatap menjadi pertimbangan pula.

Niat baik negara-negara selatan seperti Indonesia untuk ikut berpartisipasi dalam menanggung dosa lingkungan negara-negara utara akibat keserakahannya dalam mengkonsumsi energi fosil pada waktu yang lalu tidak boleh justru mengorbankan keberlanjutan kehidupan sosial, ekonomi, budaya dan ekologi penduduknya. Sebaliknya, isu perubahan iklim ini harus mampu digunakan oleh negara-negara selatan untuk mengakhiri dominasi negara-negara utara di dunia.

 

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: