Mengatasi Polusi Udara (Tak) Cukup Dengan Car Free Day

Oleh: Firdaus Cahyadi

 

            Untuk mengatasi polusi udara yang berasal dari emisi kendaraan bermotor, Pemda DKI Jakarta melalui Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) DKI Jakarta berencana menggelar hari tanpa kendaraan bermotor (Car Free Day/CFD) paling sedikit enam kali dalam satu tahun (Koran TEMPO, 21 Februari 2007).  Kualitas udara di Jakarta sendiri memang terus memburuk dalam setiap tahunnya. Pada sepanjang tahun 2006 saja misalnya, menurut data BPLHD DKI Jakarta, hari dengan kategori udara tidak sehat meningkat menjadi 50 hari, padahal pada tahun-tahun sebelumnya tidak pernah mencapai angka sebesar itu.

Program CFD yang rencananya akan diselenggarakan dalam dua bulan sekali itu sebenarnya tak lepas dari pelaksanaan secara bertahap ketentuan dari Perda Nomor 2 Tahun 2005 tentang Pengendalian Pencemaran Udara (PPU). Dalam Pasal 27 Perda tersebut bahkan diamanatkan pelaksanaan CFD di kawasan tertentu sebenarnya paling tidak satu kali dalam satu bulan.

            Kalangan LSM Lingkungan pun yang telah sekian lama mempelopori kampanye CFD tidak berlebihan bila turut memberikan apresiasi terhadap program tersebut karena aktivitas kampanyenya sudah mulai diadopsi oleh Pemda DKI Jakarta. Setidaknya dengan diadopsinya kampenye CFD yang semula digerkan oleh LSM ini dapat menjadi titik awal bagi munculnya sinerginya langkah dan program Pemda DKI Jakarta dan LSM Lingkungan yang selama ini seringkali bertentangan.

Namun apresiasi saja tidaklah cukup, tetap diperlukan sikap kritis terhadap program CFD tersebut. Salah satu pertanyaan kritisnya adalah, apakah program CFD ini akan mampu memberikan kontribusi positif dalam mengatasi polusi udara di Jakarta yang sudah parah?

            Tentu saja jawabannya bisa ya dan bisa juga tidak, tergantung sejauh mana program CFD ini mampu mendorong munculnya kebijakan-kebijakan lain terutama di sektor transporatsi dan tata ruang kota. Sebaliknya program CFD tidak akan banyak bermanfaat bila justru diikuti dengan kebijakan-kebijakan di sektor transportasi dan tata ruang kota yang bertentangan dengan semangat dan tujuan CFD.

            Ada beberapa kebijakan yang dapat diambil Pemda DKI Jakarta untuk mengiringi dan mengoptimalkan tujuan dan semangat dari program CFD. Pertama, Pemda DKI Jakarta bekerjasama dengan Pemda di Bodetabek (Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi) harus segera menyediakan transportasi publik yang aman, nyaman dan terjangkau bagi para pelaju yang setiap hari datang dan pergi dari dan ke Jakarta. Penyediaan transportasi publik ini dapat disinergikan dengan program transportasi massal di Jakarta seperti busway, monorel dan subway.

Selama tidak tersedia transportasi publik bagi para pelaju maka mereka akan cenderung menggunakan kendaraan bermotor pribadi bila beraktivitas ke Jakarta. Semakin banyak kendaraan pribadi yang mereka gunakan akan semakin menambah pula kemacetan lalu lintas dan polusi udara di Jakarta.

Kedua, Pemda DKI Jakarta harus segera mengeluarkan kebijakan disinsentif bagi penggunaan kendaraan bermotor pribadi di Jakarta. Kebijakan itu misalnya dengan memperluas area dan memperpanjang waktu dari ketentuan Three in One terutama di kawasan yang sudah tersedia tarnsportasi publik yang memadai, seperti di kawasan yang telah dilalui koridor busway. Kebijakan disinsentif lainnya yang dapat dikeluarkan seperti meningkatkan tarif parkir bagi kendaraan bermotor pribadi di kawasan padat lalu lintas.

            Ketiga, Pemda DKI Jakarta harus segera mengeluarkan kebijakan untuk membatalkan rencana pelakasanaan proyek-proyek besar yang justru akan merangsang pengguanan kendaraan bermotor pribadi di Jakarta. Proyek-proyek besar tersebut antara lain rencana pembangunan enam ruas jalan tol dalam kota yang hampir semuanya berhimpit dengan jalur transportasi massal yang sudah direncanakan sebelumnya. Begitu pula dengan proyek-proyek pembangunan ruas jalan baru seperti flyover dan underpass.

            Keempat, Pemda DKI Jakarta harus pula mengeluarkan kebijakan untuk melakukan moratorium (penundaan) rencana pembangunan kawasan-kawasan komerisal baru dan secara bertahap merelokasi kawasan-kawasan komersial lama yang selama ini mengundang kemacetan lalu lintas keluar Jakarta. Kawasan-kawasan komersial yang perlu dipindahakan secara bertahap tersebut misalnya seperti Pelabuhan, Universitas dan pusat-pusat perbelanjaan.

            Kebijakan moratorium dan relokasi kawasan-kawasan komerisal itu tidak perlu terlalu ditakutkan akan mengurangi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Jakarta. Selama ini Jakarta telah banyak diperkaya oleh kebijakan sentralisasi pada masa lampau. Untuk itu sudah saatnya kota ini membagi kekayaannya dengan daerah lainnya. Bila diibaratkan manusia, Jakarta telah mengalami problem kegemukan. Untuk itu perlu searangkaian program diet agar tidak menggangu kesehatannya dan kebijakan moratorium dan relokasi kawasan-kawasan komerisal adalah salah satu program dietnya.

            Perlu keberanian dari pemimpin kota ini untuk mengeluarkan serangkaian kebijakan itu. Untuk itu, meskipun LSM Lingkungan sudah berhasil memasukan program kampanyenya menjadi program Pemda DKI bukan berarti tugas mereka sudah selesai. LSM Lingkungan perlu tetap mendorong Pemda DKI untuk segera mengeluarkan seraangakian kebijakan di sektor tarnsportasi dan tata ruang kota yang seiring sejalan dengan semangat dan tujuan program kampanye CFD.

Categories: Uncategorized | 1 Comment

Post navigation

One thought on “Mengatasi Polusi Udara (Tak) Cukup Dengan Car Free Day

  1. undefinitelove

    Reblogged this on Undefinitelove's Blog.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: