Memimpikan Jakarta Jadi Kota Hijau

Oleh: Firdaus Cahyadi

 

 
        Akhir bulan Februari 2007 penulis mendapat pesan singkat (sms) dari seorang pakar planologi dari Universitas Trisakti mengenai perkembangan pembahasan RUU Tata Ruang di DPR. Dalam pesan singkatnya, beliau menyatakan bahwa kewajiban tiap kota untuk menyediakan Ruang Terbuka Hijau (RTH) seluas 30 persen dari luas daerahnya telah disahkan masuk dalam RUU Tata Ruang yang baru.

Berita tersebut tentu menggembirakan karena ketentuan itu akan menjadi payung hukum bagi Pemda DKI Jakarta untuk merevitalisasi RTH yang dari tahun ke tahun terus berkurang luasnya. Dengan revitalisasi RTH maka bukan tidak mungkin Jakarta akan menjadi kota ‘Hijau’ yang pertama di Indonesia. Warna ‘Hijau’ ini tidak ada kaitannya dengan militer atau kelompok Islam namun terkait dengan keramahan kota ini terhadap lingkungan hidup.

Pengurangan RTH sendiri selama ini terkesan telah direncanakan secara legal melalui Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) Kota Jakarta yang merupakan hasil ‘kesepakatan’ antara Pemda dan DPRD DKI Jakarta. Pada tahun 1965-1985 di saat penduduk Jakarta hanya berkisar 7,1 juta Master Plan Jakarta menargetkan luas RTH seluas 18.000 Ha. Ironisnya, seiring dengan pertambahan penduduk justru target luasan RTH semakin turun, pada RUTR Jakarta tahun 1985-2005 target RTH turun menjadi 16.908 Ha sementara pada Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) 2000-2010 turun lagi menjadi hanya 9.560 Ha. Padahal pada tahun tersebut diperkirakan penduduk Jakarta telah mencapai 9,2 juta hingga 12,5 juta.

Sementara hal yang sebaliknya justru terjadi pada kawasan terbangun. Berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah DKI Jakarta 2010, luas kawasan terbangun di Jakarta Barat misalnya pada tahun 1993 mencapai 55,45 persen sementara pada tahun 2003 sudah meningkat menjadi 76,93 persen. Bahkan pada tahun 2006, lebih dari 30 pertokoan, apartemen, dan perkantoran skala besar di bangun di seluruh Jakarta.

Padahal RTH sendiri selain berfungsi secara ekologi dan estetika juga dapat berfungsi sebagai tempat evakuasi bila terjadi bencana alam. Sulitnya mencari tempat evakuasi yang layak bagi korban banjir pada tahun 2002 dan 2007 yang lalu dapat dikaitkan dengan semakin berkurangnya luas dan distribusi RTH di Jakarta. Selama ini RTH yang masih layak di Jakarta hanya terkonsentrasi di kawasan Monas yang sulit dijangkau oleh korban banjir yang ada di pinggiran kota.

Untuk itulah jika UU Tata Ruang sudah disahkan maka tidak ada alasan lagi bagi Pemda dan DPRD DKI Jakarta untuk menggusur dan mengkonsentrasikan RTH hanya di kawasan tertentu demi kepentingan ‘pembangunan’ kota. Kita pun akan segera melihat kota ini secara bertahap akan lebih nyaman dan manusiawi.

Namun sejenak mimpi Jakarta menjadi kota ‘hijau’ itu menyimpan berbagai kekuatiran. Kekuatiran itu terkait dengan siapa yang akan dikorbankan jika Pemda DKI Jakarta benar-benar akan melakukan revitalisasi RTH? Besar kemungkinan yang akan menjadi ‘korban’ pertama kali dari program Jakarta ‘Hujau’ ini adalah warga miskin kota yang selama ini terpaksa tinggal di bantaran sungai dan kolong jalan tol.

Hal itu disebabkan secara politik posisi mereka sangat lemah. Kebanyakan waraga miskin kota tersebut tidak memiliki KTP sehingga dianggap penduduk illegal sehingga lebih mudah digusur secara tidak adil. Akankah seperti itu skenario program Jakarta ‘Hijau’?

Padahal RTH yang digunakan oleh warga miskin kota untuk tempat tinggalnya tidak begitu luas dibandingkan dengan RTH yang telah dialihfungsikan menjadi kawasan komersial dan perumahan mewah oleh para pemilik modal. Di Jakarta Utara misalnya, begitu luas areal yang seharusnya menjadi areal RTH atau daerah resapan air lainnya telah beralih fungsi menjadi Perumahan Pantai Indah Kapuk, Perumahan Kelapa Gading dan Daerah Industri Sunter.

Jika Pemda DKI Jakarta benar-benar akan menjadikan kota ini sebagai kota ‘Hijau’ maka harus pula berani mengembalikan areal RTH dan daerah resapan air yang telah berubah fungsi menjadi kawasan komerisal dan perumahan mewah tersebut. Hal itu dikarenakan para pemilik modal lebih punya banyak pilihan untuk merelokasi bisnis dan tempat tinggalnya keluar Jakarta dibandingkan warga miskin kota yang tidak punya banyak pilihan.

Selain itu, jika program revitalisasi RTH benar-benar ingin dijalankan maka Pemda DKI Jakarta harus berani untuk melakukan moratorium pembangunan kawasan-kawasan komerisal baru di Jakarta. Kenapa revitalisasi RTH perlu diiringi dengan moratorium pembangunan kawasan komerisal? Maraknya pembangunan kawasan komerisal di Jakarta telah menjadikan kota ini sebagai pusat bisnis yang menarik banyak pendatang untuk mencari nafkah. Akibat ikutannya adalah semakin berkurangnya daya dukung lingkungan Jakarta termsuk RTH oleh pembangunan infrastruktur baru dan pemukiman-pemukiman baik secara legal maupun illegal.

Ironisnya pada periode 2007 hingga 2008 ini sekitar 80 pusat perbelanjaan, apartemen dan perkantoran baru akan segera dibangun di Jakarta . Jika rencana itu benar-benar direalisasikan maka dapat kita bayangkan betapa semakin tergusurnya kawasan RTH dan resapan air lainnya di Jakarta.

Sepertinya para warga Jakarta tidak boleh larut dalam kegembiraan hanya karena ketentuan 30 persen RTH sudah dimasukan dalam RUU Tata Ruang.  Selain harus tetap mengawal ketentuan-ketentuan yang terdapat pada RUU itu agar tidak berubah di tengah jalan kita juga harus pula mengawasi program revitalisasi RTH di Jakarta pasca disahkannya RUU Tata Ruang. Jangan sampai program revitalisasi RTH dilakukan secara tebang pilih dengan menjadikan warga miskin kota sebagai korbannya.

 

 

Categories: Uncategorized | 1 Comment

Post navigation

One thought on “Memimpikan Jakarta Jadi Kota Hijau

  1. andikapriyautama

    Salam kenal om firdaus,
    Meski terlambat baca, SALUT!!
    Thanks pencerahannya.
    Artinya arsitek, planolog, stakeholder, dan siapapun dan apapun profesinya udah saatnya bangun dari sekedar “memimpikan” niey!🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: