DTKJ dan Kegagalan Lembaga “Multistakeholder”

KOMPAS Selasa, 18 Juli 2006

 

Firdaus Cahyadi

Masalah transportasi adalah permasalahan yang sangat pelik di Kota Jakarta. Tingginya laju pertumbuhan kendaraan bermotor mengakibatkan kemacetan lalu lintas dan polusi udara menjadi masalah keseharian warga kota. Untuk itulah dalam Peraturan Daerah Nomor 12 Tahun 2003 diamanatkan dibentuknya lembaga baru bernama Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ), yang bertugas menampung aspirasi masyarakat dan memberi bahan pertimbangan terhadap penyusunan kebijakan daerah yang terkait dengan transportasi.

Dalam Pasal 98 Perda No 12/2003 disebutkan bahwa keanggotaan DTKJ mengakomodasi perwakilan dari kelompok bisnis (pengusaha angkutan), pemerintah (Dinas Perhubungan dan kepolisian), dan masyarakat (LSM, pakar, akademisi, awak angkutan, dan pengguna angkutan umum). Istilah kerennya, DTKJ adalah lembaga multistakeholder (multipihak).

Bentuk kelembagaan DTKJ yang multistakeholder itu memang sebuah bentuk kelembagaan yang ideal, namun dalam praktiknya sangat sulit untuk dijalankan.

Bentuk kelembagaan itulah yang justru pertama-tama mendapat kritik dan keraguan dari masyarakat atas efektivitas kerja DTKJ. Hal itu dikarenakan untuk memberi masukan yang benar-benar obyektif dan berpihak kepada publik, sebuah lembaga harus bersifat independen dari kepentingan pemerintah dan bisnis. Tentu saja publik dalam hal ini harus diartikan sebagai kelompok masyarakat yang tidak punya akses terhadap kekuasaan politik dan ekonomi.

Keraguan itu dijawab dengan argumentasi bahwa independensi diterjemahkan dan dinilai dari program-program kerjanya, bukan dilihat dari bentuk formal institusinya.

Sifat independensi terletak pada isi, bukan hanya di atas permukaan (Kompas, 1 Juni 2004). Dengan jawaban tersebut sejenak keraguan masyarakat atas independensi DTKJ mereda. Namun, keraguan tersebut kembali mengemuka saat diskusi publik tentang jalan tol dalam kota yang diselenggarakan DTKJ, 29 Juni lalu.

Dalam diskusi publik tersebut dibacakan rekomendasi kebijakan dari DTKJ mengenai rencana pembangunan enam ruas jalan tol dalam kota. Dalam rekomendasi tersebut sangat terkesan DTKJ secara “malu-malu kucing” mendukung pembangunan enam ruas jalan tol dalam kota. Semua kalimat dalam rekomendasi tersebut mengisyaratkan seolah-olah pembangunan jalan tol pasti terjadi, tidak ada satu kalimat pun yang menyatakan keberatan dari DTKJ. Bahkan, sikap “malu-malu kucing” itu mengakibatkan DTKJ dinilai banci oleh sekelompok masyarakat (Kompas Cyber Media/KCM, 30 Juni 2006).

Ketidaktegasan rekomendasi DTKJ tersebut sungguh mengecewakan publik. Dengan komposisi keanggotaan yang terdiri dari berbagai tokoh transportasi dan lingkungan hidup, seharusnya lembaga ini berani dengan tegas menolak rencana pembangunan jalan tol dalam kota, apalagi hal itu bertentangan dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Jakarta.

Pertanyaannya kemudian tentu saja kenapa DTKJ tampak jadi tidak berdaya seperti itu? Salah satu sebabnya adalah adanya konflik kepentingan di dalam tubuh DTKJ yang begitu kuat.

Sangat sulit bagi lembaga ini bersikap kritis terhadap pembangunan jalan tol dalam kota ketika di dalamnya ada anggota yang, meskipun dari unsur pakar, merangkap menjadi anggota Badan Pengatur Jalan Tol.

Ketidakjelasan sikap DTKJ sebenarnya bukan tentang rencana jalan tol ini saja. Sampai sekarang DTKJ belum pernah memberikan sikap resmi, bahkan rekomendasi, mengenai buruknya pelaksanaan uji laik kendaraan bermotor (kir) yang telah tampak di depan mata.

Firdaus Cahyadi
Ketua Pokja Udara-Kaukus Lingkungan Hidup Jakarta

 

 

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: