Resensi Buku “Singkap Buyat”

Mengungkap Fakta yang Tersembunyi Dalam Kasus Buyat

 

Kategori : Resensi Buku

Judul Buku : Singkap Buyat: Temuan, Pengabaian dan Kolusi

Penulis : P. Raja Siregar

Penerbit : Wahana Lingkungan Hidup Indonesia

Halaman : 307 halaman


Meskipun Pengadilan Negeri Manado pada tanggal 24 April 2007 telah memutuskan bahwa PT Newmont Minahasa Raya (NMR), anak perusahaan dari Newmont Mining Corporation dan Presiden Direkturnya, Richard Ness, tidak bersalah atas seluruh dakwaan pencemaran kasus pencemaran di Teluk Buyat namun ternyata masih ada beberapa fakta yang belum terungkap di media massa terkait dengan kondisi lingkungan hidup akibat aktivitas pertambangan di kawasan tersebut.

Buku yang berjudul lengkap Singkao Buyat: Temuan, Pengabaian, Kolusi ini mencoba mengungkap beberapa fakta yang masih tersembunyi tersebut. Buku ini berisi tentang berbagai temuan menyangkut kasus Buyat. Berbagai temuan ini dipisahkan ke dalam beberapa aspek, mulai dari lingkungan, kesehatan, hukum, media, sampai ke peran akademisi. P. Raja Siregar, penulis buku ini yang sejak awal terlibat aktif dalam melakukan advokasi kasus Buyat, mengangkat bagaimana keseluruhan aspek baik teknis dan non-teknis di balik ‘hingar-bingarnya’ pemberitaan media massa terhadap kasus ini..

Dalam buku yang diterbitkan oleh Walhi (Wahan Lingkungan Hidup) ini, Raja mengungkapkan berbagai temuan saat menyelidiki kasus dugaan pencemaran yang dilakukan oleh PT NMR. Beberapa penelitian ilmiah yang begitu mudah diabaikan hanya karena dianggap berpotensi mengganggu kontrak karya di sector pertambangan, bahkan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) Indonesia yang sejak awal sudah mengetahui bahwa ada permasalahan lingkungan hidup pada aktivitas pertambangan hanya ‘berani’ memberikan surat pemberitahuan tanpa ada tindakan atau teguran (Hal 109).

 

Di dalam buku ini, Raja juga terungkap bagaimana solidnya kerja dari tim public relation (PR) dari perusahaan pertambangan untuk memperbaiki reputasi dan citranya akibat mencuatnya kasus Buyat ini. Meskipun tak jarang kerja tim PR tersebut ‘menginjak-injak’ prinsip-prinsip jurnalistik, seperti praktik pemberian amplop yang berisi uang kepada wartawan hingga serbuan iklan ke media massa sehingga mampu melunturkan prinsip-prinsip tentang cover both side (berimbang) dan sikap kritis yang lazimnya dijunjung tinggi para jurnalis (Hal 149-173).

Buku ini juga mengungkapkan bahwa operasi modal dari PT.NMR perbaikan reputasi den penggalangan opini public tidak hanya ditujukan pada para jurnalis beserta medianya namun juga pada para akedemisi yang selama ini menjunjung nilai-nilai objektivitas. Berbeda pendapat yang sejatinya sangat biasa dalam perguruan tinggi tiba-tiba menjadi sesuatau yang ‘membahayakan’ di Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Menado ketika kasus pencemaran ini mencuat. Adalah seorang Dr. Rignolda Jamaluddin, seorang ahli kelautan dari Unsrat, terancam dilengserkan dari institusinya hanya karena berkayikinan bahwa Teluk Buyat tercemar (Hal 223-224).

Buku ini juga mencoba mengungkap fakta bahwa di luar dugaan pencemaran di perairan Teluk Buyat, aktivitas pertambangan PT.NMR diduga juga telah melakukan pencemaran udara dan air di kawasan tersebut. Dalam buku ini, misalnya, terungkap bahwa PT. NMR selama 4 tahun telah melepaskan 17 ton merkuri ke udara. Padahal, jika hal itu terjadi di negara asalnya, Amerika serikat, maka Bdan Perlindungan Amerika (EPA) akan melakukan investigasi khusus untuk melihat dampak kesehatan yang terjadi. Celakanya, di Indonesia, meskipun KLH telah berulangkali membahas kualitas udara di sekitar pabrik namun tidak pernah ada sanksi yang diberikan oleh KLH sendiri maupun Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) sebagai instansi pembina.

Begitu pula terkait dugaan pencemaran Arsen pada sumur penduduk. Pada data Anelisa mengenai dampak lingkungan (Amdal) tahun 1993 terungkap bahwa kandungan Arsen pada sumur-sumur penduduk lebih rendah, bahkan tidak terdeteksi. Namun pada data Rencana Kelola Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) PT.NMR dari tahun 1999-2004 justru menunjukan peningkatan. Sayangnya, rekomendasi dari Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) untuk memastikan sumber pelepasan Arsen menuju Desa Buyat dengan melakukan pengeboran ke sejumlah titik belum juga dilakukan.

Menariknya buku ini juga memebrikan analisanya tantang Surat Tuntutan pidana terhadap terdakwa I dan II (Richard Bruce Ness) oleh KLH dalan kasus pidana dugaan pencemaran lingkungan Teluk Buyat. Penulis buku ini seakan memprediksikan akan terbukanya peluang bagi para terdakwa untuk bebas dari tuntutan hukum. Ternyata prediksi dari penulis menjadi kenyataan pada bulan April 2007 saat para terdakwa dibebaskan dari tuntutan hukum oleh Pengadilan Negeri Menado. Sebagai catatan buku ini diterbitkan pada bulan September 2006.

Dengan berbagai fakta yang coba diungkapkan melalui oleh penulis dalam buku ini, maka tidak berlebihan bila buku ini dapat menjadi wajib dibaca oleh masyarakat di negeri ini. Setidaknya buku ini memberikan pesan bahwa kekuatan modal dapat ‘membeli’ idealisme sebagian jurnalis dan akademisi di negeri ini setidaknya di saat kasus Buyat mencuat. Pesan selanjutnya, tentu saja bahwa ‘kerakusan’ terhadap investasi asing terutama di sector pertambangan selama ini telah menajadikan para pemegang kebijakan di negeri ini menjadi gamang ketika berhadapan dengan pemilik modal.

Hanya sayangnya, sebagian besar bab dalam buku ini mengandung istilah dalam bidang lingkungan yang sulit untuk dimengerti oleh masyarakat awam. Misalnya seperti ERA (Ecological Risk Assessment), thermoklin, dan hasil penelitian berbagai tim yang berisikan tabel-tabel kandungan senyawa kimia. Penjelasan berbagai istilah ini tidak diberikan langsung, tetapi diletakkan secara acak dalam end note yang disajikan di akhir setiap bab. Kelancaran membaca akhirnya tertanggu saat harus berulang kali memindah halaman. Jika saja penulis menyediakan bagian khusus yang merupakan daftar istilah (glossary), hal ini tidak akan terlalu menjadi masalah.

Selain itu ada beberapa pengulangan kalimat dalam beberapa bab yang bisa menggangu kenikmatan para pembaca buku ini. Terlepas dari berbagai kekurangan dan kelebihannya, setidaknya buku ini dapat menjadi semacam media ‘perlawanan’ alternative terhadap gencarnya operasi modal dari perusahaan tambang yang diduga terkait dengan pencemaran Teluk Buyat.

Kedepannya, diharapkan buku ini bisa dijadikan pembelajaran bagi seluruh masyarakat akan resiko dari praktek-praktek yang mengabaikan aspek lingkungan. Pembeberan kasus yang menimpa PT NMR dan masyarakat teluk Buyat dalam buku ini menunjukkan betapa Indonesia masih mengabaikan aspek lingkungan dan keadilan bagi masyarakatnya. Buku ini pun sangat cocok dijadikan cermin bagi kita semua.

 

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: