Jakarta di ambang kehancuran

Harian Bisnis Indonesia (Senin, 31/12/2007)

Oleh Firdaus Cahyadi
Knowledge Sharing Officer for Sustainable
Development OneWorld-Indonesia

Sulit rasanya untuk mengatakan bahwa banjir di Jakarta merupakan sebuah fenomena alam semata. Betapa tidak, awal 2007 telah dibuka dengan bencana banjir yang hampir menenggelamkan seluruh kota ini. Pada akhir 2007 ditutup dengan banjir air pasang yang melanda pesisir Jakarta, khususnya di Muara Baru Jakarta Utara. Keberlanjutan kota ini benar-benar telah berada dalam ancaman kehancuran.

Bayangkan sudah sejak Oktober 2007 warga Muara Baru Jakata Utara mengalami banjir akibat terjangan air laut pasang. Seperti pendahulunya, Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo menjadikan fenomena global yang jauh dari jangkauan kebijakan publik sebagai penyebab bencana itu. Kali ini fenomena pemanasan global (global warming) dituding menjadi penyebab utamanya.

Memang benar pemanasan global telah menyebabkan kenaikan permukaan air laut di seluruh dunia sehingga daerah-daerah pesisir menjadi lebih rentan terhadap banjir yang diakibatkan oleh terjangan air pasang. Namun sebuah kesalahan besar pula apabila kita tidak melihat banjir air pasang di Muara Baru Jakarta Utara sebagai dampak langsung dari gagalnya model pembangunan kota yang didasarkan pada kerakusan untuk mengejar angka pertumbuhan ekonomi dengan mengorbankan keberlanjutan ekologi dan sosial.

Setidaknya hal itu dapat dilihat dari data dari Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) DKI Jakarta yang menyebutkan bahwa menyusutnya daerah resapan air, baik berupa situ atau ruang terbuka hijau, oleh aktivitas pembangunan telah menyebabkan dari 2.000 juta/m3 air hujan yang turun di Jakarta dalam tiap tahunnya hanya 26,6% mampu terserap dalam tanah. Sementara sisanya sebesar 73,4% menjadi air larian (run off) yang masuk ke sistem drainase kota untuk dialirkan kembali ke laut (BPLHD DKI Jakarta, 2007).

Artinya, ketika air laut mengalami pasang maka dapat dipastikan 73,4% air larian itu tidak dapat mengalir ke laut. Dari situlah maka tidak heran bila ketika datang musim hujan, sekitar Oktober 2007, pasang air laut telah menyebabkan daerah Muara Baru dan daerah sekitar Jakarta Utara lainnya semakin parah tergenang air.

Selain itu besarnya konsumsi air tanah dan beban bangunan di atas kota ini telah menyebabkan permukaan tanah Jakarta mengalami penurunan beberapa centimeter dalam setiap tahunnya. Sudah dapat dipastikan, kondisi ini mengakibatan semakin rentannya kawasan pesisir terkena banjir saat air laut pasang.

Izin reklamasi

Kondisi di atas juga semakin diperparah dengan pemberian izin pada proyek reklamasi pantai utara Jakarta bagi pembangunan kawasan komersial baru dan pemukiman mewah. Padahal proyek reklamasi ini selain telah mengubah geomorfologi (bentang alam) juga telah merusak sistem hidrologi kawasan pantai. Proyek reklamasi pantai ini juga telah membabat hutan mangrove (bakau) yang berfungsi sebagai pelindung alami wilayah daratan dari terjangan air pasang/gelombang pasang dari laut.

Keputusan Kementerian Negara Lingkungan Hidup (KLH) yang menyatakan proyek itu tidak layak lingkungan tidak menghalangi Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk tetap memberikan restu pada proyek ini. Tidak itu saja, BPLHD DKI Jakarta yang seharusnya menjadi filter bagi proyek-proyek yang tak layak lingkungan justru ikut-ikutan membela proyek ini dengan menyamarkan proyek reklamasi tersebut dengan istilah revitalisasi pantai utara Jakarta.

Ancaman terhadap keberlanjutan kehidupan warga kota akibat model pembangunan kota yang tak ramah lingkungan sepertinya akan masih berlanjut pada tahun-tahun mendatang. Betapa tidak, meskipun telah nyata-nyata mengalami kelebihan beban, rencana tata ruang kota Jakarta tahun 2010 masih saja menempatkan kota ini sebagai kota jasa disamping sebagai pusat pemerintahan (Perda Nomor 6 Tahun 1999).

Rencana tata ruang seperti itu menimbulkan kewajiban bagi Pemprov DKI Jakarta untuk selalu menyediakan lahan bagi munculnya kawasan-kawasan bisnis baru. Padahal ketersediaan lahan di kota ini sangatlah terbatas. Proyek reklamasi pantai utara Jakarta sebenarnya dilakukan untuk memenuhi kewajiban Pemprov DKI Jakarta tersebut.

Adalah sebuah keniscayaan bila ada penambahan kawasan bisnis baru di Jakarta akan meningkatkan daya tarik bagi banyak orang untuk datang ke kota ini. Akibatnya, makin beratlah beban ekologi dan sosial yang harus dipikul oleh kota ini. Hal itu disebabkan semakin padatnya penduduk di kota ini dipastikan akan meningkatkan pula konsumsi air tanah, sampah dan jenis-jenis polusi lainnya.

Terjadinya bencana banjir air pasang di Muara Baru Jakarta Utara ini harus dijadikan momentum bagi Pemprov DKI Jakarta untuk segera merubah model pembangunan kota yang selama ini hanya mengejar pertumbuhan ekonomi.

Namun sayangnya Pemprov DKI Jakarta nampaknya mengabaikan kesempatan itu. Pemprov DKI Jakarta justru sibuk menjadikan faktor alam sebagai kambing hitamnya tanpa pernah melihat bencana tersebut sebagai akibat dari gagalnya model pembangunan kota. Karena alam yang dikambinghitamkan, solusi yang dipilih pun selalu berbentuk proyek baru dan bersifat teknokratis, semisal membangun proyek kanal, deep tunnel dan tanggul di tepi pantai.

Jika solusi proyek masih saja menjadi pilihan dari Pemprov DKI Jakarta untuk mengatasi bencana ekologi tanpa diiringi oleh perubahan model pembangunan, maka dapat dipastikan bencana-bencana ekologi lainnya akan segera menghampiri kota ini. Seperti biasa, para konsultan pembangunan, lembaga keuangan internasional, lembaga bisnis bantuan dan para pejabat pemerintahan yang korup lah yang akan diuntungkan dengan kondisi tersebut. Sementara warga Jakarta tatap menjadi pengungsi di dalam kotanya sendiri.

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: